Tiga Penyebab Konflik di Laut China Selatan Tidak Tuntas

Roni Kurniawan    •    Rabu, 16 Nov 2016 15:50 WIB
laut china selatan
Tiga Penyebab Konflik di Laut China Selatan Tidak Tuntas
Pakar Hukum Laut Internasional Hasyim Djalal (Foto: Roni Kurniawan/MTVN)

Metrotvnews.com, Bandung: Pakar Hukum Laut Internasional Hasyim Djalal menilai terdapat tiga permasalahan utama yang terjadi di Laut China Selatan. Salah satunya yakni batas teritorial atau wilayah diakuinya jadi penyebab konflik di Laut China Selatan tak kunjung tuntas.
 
Menurut Hasyim, permasalahan batas wilayah hingga kini tak menemukan kemajuan. Bahkan dalam beberapa waktu Mahkamah Arbitrase memberikan putusan yang memenangkan gugatan Filipina atas Tiongkok di Laut China Selatan.
 
"Membahas itu tidak maju-maju karena masalah kedaulatan. Dan kita tidak paham apa yang dituntut masing-masing pihak sampai sekarang (kawasan) yang mereka klaim," ujar Hasyim saat ditemui disela-sela acara Workshop Konflik Laut Cina Selatan di Hotel Padma Preanger, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Rabu (16/11/2016).
 
 
Bahkan Hasyim pun mengaku garis sembilan putus-putus yang berada di Laut China Selatan tidak jelas mengenai peruntukkannya. "Namun sampai saat ini tidak jelas apakah batas teritorial atau apakah," lanjutnya.
 
Kedua, Hasyim menyoroti mengenai kekayaan alam yang selama ini tidak jelas proyek yang dikembangkan untuk memanfaatkannya. Pasalnya di kawasan Laut China Selatan terdapat beberapa kekayaan alam seperti ikan, migas, energi dan sebagainya.
 
"Bagaimana itu pemanfaatannya? Terus proses proyeknya bagaimana? Itu juga jadi masalah di sana (Laut China Selatan)," katanya.
 
Terakhir yakni masalah lingkungan yang dapat berdampak besar terhadap beberapa negara termasuk Indonesia. Pasalnya Laut China Selatan merupakan jalur bagi Indonesia untuk melakukan ekspor ke negara lain seperti Tiongkok, Korea dan Jepang.
 
"Ini juga harusnya dilakukan semacam penelitian ilmiah. Bagaimana dampaknya secara global akibat dari lingkungan yang ada di Laut China Selatan," urainya.
 
Jika tiga permasalahan tersebut dapat dipecahkan, Hasyim yakin konflik tidak akan terjadi lagi di Laut China Selatan. Namun ia sadar untuk mewujudkan hal itu butuh waktu yang cukup lama.
 
"Maka dari itu, melalui workshop ini mudah-mudahan secara bertahap bisa memecahkan masalah tersebut dan mampu membangun proyek secara bersama," pungkas mantan duta besar di Jerman periode 1990-1993 ini.
 
Sementara itu, sebanyak 12 delegasi dari negara peserta Asean mengikuti Workshop Konflik Laut China Selatan yang berlangsung selama dua hari 16-17 November di Bandung. Dari belasan delegasi tersebut, hanya Thailand yang tidak mengikuti karena masih dalam keadaan berkabung usai meninggalnya Raja Bhumibol Adulyadej pada Oktober silam.



(FJR)

Hasil Referendum Italia dan Hubungannya dengan Uni Eropa

Hasil Referendum Italia dan Hubungannya dengan Uni Eropa

1 day Ago

Perdana Menteri Italia Metteo Renzi mundur dari jabatannya setelah gagal menang dalam referendum…

BERITA LAINNYA