ASEAN Bendung Pengaruh Terorisme Lewat Peranan Kaum Muda

Sonya Michaella    •    Rabu, 30 Nov 2016 10:27 WIB
terorismeasean
ASEAN Bendung Pengaruh Terorisme Lewat Peranan Kaum Muda
Dirjen Kerja sama ASEAN Kemenlu RI Jose Tavares (Foto: Sonya Michaella/Metrotvnews.com).

Metrotvnews.com, Jakarta: Di tengah maraknya kekerasan dan terorisme dengan mengatasnamakan agama, upaya kuat untuk membendung hal tersebut dilakukan sejumlah negara dan juga organisasi, termasuk ASEAN.
 
Kelompok ekstremis selalu menyebarkan ideologi radikal melalui interpretasi agama, namun menyakiti orang lain dan menghancurkan sejumlah negara.
 
Kelompok-kelompok terorisme tersebut pun disinyalir akan bergerak ke wilayah Asia. Untuk saat ini saja, afiliasi dari Islamic State (ISIS) yaitu kelompok Abu Sayyaf yang gemar menyandera anak buah kapal, sudah mendiami wilayah Filipina Selatan.
 
"Jika hal itu terjadi, maka itu akan sangat mengganggu prinsip ASEAN yang menomorsatukan stabilitas, kedamaian dan keseimbangan," kata Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri RI, Jose Tavares pada pidatonya di pembukaan Simposium tentang Ekstremisme di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, Depok, Rabu (30/11/2016).
 
"Saya tekankan, bahwa terorisme dan ekstremisme, serta radikalisme tidak berhubungan dengan agama apapun. Mereka hanya mengatasnamakan agama," tegas Jose.
 
Menurut Jose, kelompok-kelompok terorisme ini tak henti-hentinya menyebarkan ketakutan di seluruh dunia dengan atas nama agama.
 
"Seperti ISIS yang mengatasnamakan agama Islam, namun mereka tidak mencerminkan agama Islam sama sekali," tuturnya lagi.
 
Indonesia, sebagai salah satu negara dengan penduduk Muslim terbesar, sangat berkomitmen untuk memerangi terorisme, ekstremisme dan radikalisme. Apalagi, Indonesia pun beberapa kali pernah dilanda serangan bom.
 
Kelompok-kelompok terorisme tersebut tak henti-hentinya pula merekrut anak-anak muda untuk menjadi anggotanya. Biasanya, mereka menarik anak-anak muda lewat media sosial.
 
"Kita harus meyakinkan para kaum muda di Indonesia dan juga seluruh dunia bahwa kelompok-kelompok tersebut tak ada hubungannya dengan agama," ujar Jose lagi.
 
Ia pun berharap bahwa simposium yang diselenggarakan Kementerian Luar Negeri RI, bekerja sama dengan Universitas Indonesia dan ASEAN Studies Center dapat membawa dampak yang berguna, terutama bagi kaum muda di Indonesia untuk lebih bisa mengerti dan membedakan terorisme dan agama.



(FJR)