Pererat Hubungan dengan Afrika, RI akan Gelar IAF 2018 di Bali

Marcheilla Ariesta    •    Selasa, 03 Oct 2017 16:20 WIB
indonesia-afrika
Pererat Hubungan dengan Afrika, RI akan Gelar IAF 2018 di Bali
IAF merupakan bentuk perhatian Indonesia untuk dapat mempererat kerja sama dengan Afrika. (Foto: Metrotvnews.com/Marcheilla Ariesta)

Metrotvnews.com, Jakarta: Bali akan menjadi tuan rumah acara Indonesia Africa Forum pada 10-11 April 2018. Forum ini merupakan bentuk perhatian Indonesia untuk dapat mempererat kerja sama dengan Afrika.

Direktur Afrika Kementerian Luar Negeri Daniel Tumpal Simanjuntak menuturkan kepada Metrotvnews.com, forum tersebut digagas Indonesia dan merupakan tindak lanjut dari pernyataan Presiden Joko Widodo di pertemuan G20 di Berlin, Jerman, beberapa waktu lalu. Ketika itu, Jokowi menyebutkan bahwa Indonesia akan memberi bentuk perhatian di Afrika.

"Acara ini bertujuan memperkuat kerja sama dengan pihak-pihak pemerintah dan swasta. Acaranya, selain mengumumkan kesepakatan bisnis, juga akan ada hal yang terkait dengan kerja sama pendidikan. Forum ini akan diumumkan oleh pemerintah Indonesia, yang menunjukkan perhatian kita ke Afrika," ujar pria kerap disapa Tumpal itu, di D'Lab Jakarta, Selasa 3 Oktober 2017.

IAF akan menjadi acara bersejarah bagi hubungan bisnis Indonesia dan negara-negara di Afrika, dan diharapkan akan melahirkan kesepakatan-kesepakatan bisnis bernilai signifikan untuk kedua pihak.

Forum ini merupakan yang kali pertama digelar di Indonesia. Menurut Tumpal, forum ini juga akan menjadi ajang pengumuman kerja sama teknik dan lainnya yang memiliki nilai ekonomi.

Sementara itu, Staf Khusus Kementerian Luar Negeri untuk Isu-Isu Strategis, Djauhari Oratmangun, mengatakan Afrika merupakan benua masa depan. Pasalnya banyak sekali kerja sama yang dapat digali dengan negara-negara di Benua Hitam, salah satunya di bidang minyak dan tambang.

"Afrika merupakan benua masa depan dengan pertumbuhan ekonomi tinggi, tenaga kerja yang melimpah dan daya beli yang kuat," serunya saat ditemui di acara PR and Diplomacy Indonesia in Africa.


Djauhari Oratmangun. (Foto: Metrotvnews.com)

Hal tersebut menjadi dasar juga IAF 2018 akan digelar. Pasalnya Afrika akan menjadi pasar prospektif untuk produk-produk Indonesia. Upaya-upaya penekanan ke Afrika antara lain dilakukan dengan bantuan skema pembiayaan oleh Indonesi Eximbank, yaitu National Interest Account, rencana skema dagang dan negosiasi pembentukan Preferential Trade Agreemet (PTA).

Untuk PTA sendiri, Indonesia tengah menjajaki pendekatan dengan Southern African Customs Union (SACU). Negara kunci SACU adalah Afrika Selatan, karenanya saat kunjungan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita ke Afrika Selatan, Indonesia menyerahkan proposal yang mendorong adanya PTA dengan SACU.

Hingga saat ini, PTA dengan SACU masih dalam proses di Afrika Selatan. Selain dengan SACU, Indonesia ingin juga membuat PTA dengan Economic Community of West African States (ECOWAS). Sejauh ini, sudah diserahkan proposal ke Nigeria, sebagai basis dari ECOWAS tersebut.

Indonesia merupakan negara keempat terbesar di bidang perdagangan dengan Afrika. Total nilai perdagangan Indonesia denga Afrika Sub-Sahara mencapai USD5,86 miliar.

Sementara itu, Indonesia juga mengimpor minyak bumi dari Nigeria dan Angola, masing-masing senilai USD1,2 miliar dan USD639 juta.



(WIL)