Larangan Gunakan Nuklir untuk Maksud Damai Harus Dihindari

Sonya Michaella    •    Rabu, 17 May 2017 12:17 WIB
nuklir
Larangan Gunakan Nuklir untuk Maksud Damai Harus Dihindari
Diskusi 'Nuklir: Ancaman dan Manfaat', di Kementerian Luar Negeri RI (Foto: Sonya Michaella/Metrotvnews.com).

Metrotvnews.com, Jakarta: Indonesia menggarisbawahi perlunya implementasi secara berimbang terkait nuklir yang dilaksanakan dengan transparan dan tidak diskriminatif.
 
Selama ini, Indonesia selalu mengecam adanya uji coba peluncuran nuklir, terutama yang kerap dilakukan oleh Korea Utara. Bahkan, Indonesia juga mendesak sejumlah negara yang masih memiliki senjata nuklir untuk segera dilucuti.
 
"Namun, kita harus berusaha menghindari adanya pelarangan untuk peningkatan teknologi menggunakan nuklir untuk maksud damai," kata Duta Besar PTRI Wina 2012-2017, Rahmat Budiman, dalam paparannya dalam diskusi 'Nuklir: Ancaman dan Manfaat', di Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Rabu 17 Mei 2017.
 
Maksud damai yang dibeberkan Rahmat adalah penggunaan nuklir untuk kesehatan, agrikultur, makanan, dan pembangkit listrik. 
 
Indonesia yang tergabung dalam Non-Proliferation of Nuclear Weapons (NPT) juga kerap mendesak adanya pembahasan dalam forum-forum internasional tentang perlucutan senjata.
 
"Kita dalam kasus ini sangat aktif di forum internasional melalui peranan kita di nonblok dan working grup terkait," lanjut dia.
 
Sejauh ini, kata dia, terjadi suatu perbedaan terkait posisi negara-negara yang cukup mencolok di pembahasan nuklir ini.
 
"Jadi pembahasan isu ini adanya frustasi, utamanya terkait dengan ketidaksungguhan dari negara pemilik senjata nuklir untuk pengurangan senjatanya secara signifikan," tutur Rahmat lagi.
 
Pembahasan-pembahasan terkait bahkan dokumen akhir saja tidak berhasil dicapai. Rahmat menuturkan, di Konferensi Wina 2015 juga digelar pertemuan untuk membahas kerja sama antarkawasan bebas senjata nuklir.
 
"Tetapi, di Konferensi Wina itu juga batal digelar soal pembahasan nuklir, bahkan untuk mencapai agenda pertemuan," pungkas dia.
 
Menurut laporan, jumlah angka kepemilikan nuklir ada penurunan, namun dari kualitas ancaman justru saat ini lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya.



(FJR)