Pengadilan India Tolak Permintaan Aborsi Bocah Korban Pemerkosaan

Arpan Rahman    •    Senin, 31 Jul 2017 13:19 WIB
pemerkosaan
Pengadilan India Tolak Permintaan Aborsi Bocah Korban Pemerkosaan
ilustrasi pemerkosaan. (Foto: Metrotvnews.com)

Metrotvnews.com, New Delhi: Mahkamah Agung (MA) India menolak permohonan korban perkosaan berusia 10 tahun untuk melakukan aborsi. Dokter mengatakan hal itu dapat mengancam hidupnya.

Gadis tersebut hamil delapan bulan dan pihak pengacara berkata keluarga korban telah menerima vonis pengadilan.

"Putusan pengadilan didasarkan pada pendapat yang diterima dari panel medis yang memenuhi syarat dan kami puas dengan keputusan tersebut," Alakh Alok Srivatav, pengacara keluarga korban, seperti dinukil The Nation, belum lama ini. 

Hakim MA mengaku tidak dapat membiarkan korban menggugurkan kandungannya berdasarkan laporan medis. Korban dikhawatirkan tidak akan selamat jika prosedur tetap dilakukan.

Gadis yang tidak disebut namanya itu diduga diperkosa beberapa kali oleh seorang paman. Pelaku telah ditangkap atas beberapa kasus pemerkosaan.

Kehamilan diketahui baru-baru ini sesudah orangtua korban membawanya ke rumah sakit karena anak mereka mengeluh sakit perut. Orang tuanya kemudian mengadu ke pengadilan supaya mengizinkan aborsi.

Catatan Buruk India

Permohonan awal mereka di pengadilan setempat ditolak karena ketakutan akan keselamatan serupa. Keluarga menentang keputusan itu dan mengajukannya ke MA.

Hukum India tidak mengizinkan aborsi setelah usia janinnya 20 pekan, kecuali ada ancaman bagi kehidupan ibu.

Pengadilan India selama ini telah mempertimbangkan banyak permintaan dari korban perkosaan yang meminta izin menggugurkan kehamilan setelah terjadi perkosaan.

Mei lalu, pengadilan tinggi mengizinkan seorang korban pemerkosaan berusia 10 tahun dari negara bagian utara Haryana menggugurkan janinnya yang hampir berusia 21 minggu.

India memiliki catatan buruk serangan seksual terhadap anak di bawah umur, dengan 20.000 kasus pemerkosaan atau serangan seksual yang dilaporkan pada 2015, menurut data pemerintah. Komite PBB untuk Hak Anak pada 2014 mengatakan satu dari tiga korban pemerkosaan di dunia masih di bawah umur.


(WIL)