PBB Sebut Rencana Bangladesh Perluas Kamp Pengungsi Berbahaya

Sonya Michaella    •    Senin, 09 Oct 2017 08:12 WIB
konflik myanmarrohingyapengungsi rohingya
PBB Sebut Rencana Bangladesh Perluas Kamp Pengungsi Berbahaya
Pengungsi Rohingya yang berada di perbatasan Bangladesh. (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Dhaka: Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebutkan, rencana Bangladesh untuk membangun kamp pengungsi terbesar di dunia untuk Rohingya bisa menjadi tindakan yang berbahaya.

Pasalnya, eksodus pengungsi Rohingya yang sudah mencapai setengah juta, akan menyebabkan kepadatan penduduk dan dapat meningkatkan risiko penyakit mematikan menyebar dengan cepat.

Pemerintah Bangladesh kini sedang mencanangkan adanya perluasan sebuah kamp pengungsian di Kutupalong, dekat perbatasan Cox's Bazar untuk menampung setidaknya 800 ribu Rohingya.

"Seharusnya Bangladesh mencari tempat baru untuk membangun lebih banyak kamp. Ketika Anda memusatkan begitu banyak orang ke daerah yang kecil, mereka akan rentan terhadap penyakit," kata Koordinator Residen PBB untuk Dhaka, Robert Watkins, dikutip dari AFP, Senin 9 Oktober 2017.

"Tak hanya itu, potensi terjadinya kebakaran di kamp-kamp yang terlalu padat juga dikhawatirkan akan sering terjadi," lanjut dia.

Menurut Organisasi Internasional untuk PBB (IOM), telah ada kesepakatan baru dengan Bangladesh untuk mengkoordinasikan pekerjaan lembaga bantuan dan membantu membangun tempat penampungan di lokasi kamp baru.

IOM juga menyebutkan, kamp yang diusulkan akan menjadi kamp pengungsi serupa dengan Bidi-Bidi yang ada di Uganda dan Dadaab, Kenya, di mana keduanya menampung sekitar 300 ribu pengungsi.

Menanggapi komentar PBB, Bangladesh mengungkapkan bahwa kamp baru tersebut akan membantu mereka mengelola operasi bantuan dengan lebih baik dan menjamin keamanan Rohingya di tengah kekhawatiran mereka di mana Rohingya bisa direkrut menjadi militan ARSA.

Pekan ini, Bangladesh melaporkan bahwa ada sekitar 4.000 sampai 5.000 Rohingya melintasi perbatasan setiap harinya, dan diperkirakan ada 10 ribu orang lagi yang menunggu untuk memasuki Dhaka.


(WIL)