Dua Gempa Kecil Kecoh Sistem Pengawas Bencana di Jepang

Willy Haryono    •    Jumat, 05 Jan 2018 16:21 WIB
gempa bumi
Dua Gempa Kecil Kecoh Sistem Pengawas Bencana di Jepang
Sebuah proyek konstruksi di Tokyo, Jepang, 3 Juli 2017. (Foto: AFP/TOSHIFUMI KITAMURA)

Tokyo: Jutaan orang di Tokyo menerima peringatan bersuara keras bahwa "gempa bumi kuat akan terjadi dalam waktu dekat," Jumat 5 Januari 2018. Namun ternyata peringatan tersebut muncul karena adanya dua gempa bumi berkekuatan rendah. 

Pesan singkat dan alarm bersuara keras muncul di jutaan telepon genggam warga Jepang di ibu kota dan sekitarnya. Pesan itu berbunyi: "Sebuah gempa bumi terjadi di lepas pantai Ibaraki. Bersiap untuk guncangan dahsyat."

Namun sejumlah pejabat setempat menduga peringatan awal, yang dikeluarkan Agensi Meteorologi Jepang, dipicu dua gempa kecil yang terjadi hampir bersamaan. 

Gempa 4,4 Skala Richter terjadi di lepas pantai Ibaraki di kawasan Pasifik pada pukul 11.02 pagi waktu setempat. Sementara gempa 3,9 SR mengguncang prefektur Toyama, sekitar 350 km dari Ibaraki.

Perdana Menteri Jepang juga sempat terkecoh oleh peringatan ini. Tayangan di televisi memperlihatkan dirinya mengecek telepon genggam serta terdengarnya suara alarm keras di kantornya. 

Suara peringatan juga muncul di kantor berita NHK, dengan seruan dari penyiar kepada semua penonton: "Lindungi diri Anda. Jauhi furnitur yang tidak stabil."

Peringatan membuat perjalanan kereta api dan kereta bawah tanah di Tokyo dihentikan sementara. Sejumlah elevator -- termasuk di Menara Tokyo -- juga dihentikan.

"Kami menduga sistem pengawas bencana salah mengestimasi dengan mengkalkukasikan dua gempa terpisah sebagai gempa besar," ucap seorang pejabat.

Jepang meluncurkan sistem pengingat gempa bumi satu-satunya di dunia pada 2007. Sistem ini memberikan cukup waktu bagi warga untuk berlindung dari imbas gempa.

Negeri Sakura berlokasi di persimpangan empat lempeng tektonik dan mengalami sejumlah gempa dahsyat dari tahun ke tahun. Gempa berkekuatan 9,0 SR di Jepang pada Maret 2011 memicu tsunami besar dan menghantam fasilitas nuklir di Fukushima. Itu adalah tragedi atom terbesar sejak Chernobyl pada 1986.


(WIL)