PNG Minta Australia Tangani Pengungsi di Pulau Manus

Arpan Rahman    •    Senin, 30 Oct 2017 18:14 WIB
imigran gelap
PNG Minta Australia Tangani Pengungsi di Pulau Manus
Kamp detensi di Pulau Manus ditutup pada 31 Oktober 2017. (Foto: AFP/REFUGEE ACTION COALITION)

Metrotvnews.com, Canberra: Papua Nugini menilai Australia harus bertanggung jawab atas nasib para pengungsi yang tidak ingin bermukim di PNG setelah kamp detensi mereka di negara tersebut ditutup.

Australia menempatkan para pencari suaka yang ingin tinggal di Negeri Kanguru ke kamp detensi di Pulau Manus, PNG, sejak 2012. Kamp tersebut dijadwalkan ditutup pada Selasa 31 Oktober besok.

PNG mengaku tidak akan memaksa para pengungsi untuk tinggal di negaranya. Tapi PNG juga tidak bisa mengakomodasi orang-orang yang bukan berstatus pengungsi.

Disitat BBC, Senin 30 Oktober 2017, Canberra berkukuh bahwa tidak ada satu pun pencari suaka di Manus yang boleh datang ke Australia.

Australia secara kontroversial menempatkan para pengungsi dan pencari suaka yang tiba dengan kapal ke kamp detensi di Pulau Manus, PNG, dan satui negara kecil di Pasifik, Nauru. Australia beralasan, penempatan di kamp detensi bertujuan mencegah kematian dalam perjalanan berbahaya di lautan serta memerangi jaringan penyelndupan manusia.

Namun, kelompok hak asasi manusia mengatakan bahwa kondisi di PNG dan Nauru sangat padat dan tidak layak. Hal tersebut memicu kerugian psikologis dan membuat para pencari suaka rentan terhadap beragam bahaya, termasuk serangan fisik dan seksual.

Pusat detensi di PNG akan ditutup pada 31 Oktober, setelah pengadilan setempat memutuskan bahwa menahan orang di sana merupakan langkah tidak konstitusional.

Para pengungsi di pusat tersebut dapat mengajukan permohonan untuk dimukimkan secara permanen di PNG, Amerika Serikat atau Kamboja, atau minta pengalihan ke pusat penahanan lepas pantai Australia lainnya di Nauru.

Human Rights Watch (HRW) memperkirakan sekitar 770 pria -- sebagian besar telah diklasifikasikan sebagai pengungsi -- masih ada di Pulau Manus. Dikatakan mayoritas dari mereka tidak ingin tinggal di PNG.


(WIL)