Kehidupan Etnis Rohingya di Rakhine Serba Terbatas

Marcheilla Ariesta    •    Selasa, 21 Nov 2017 17:31 WIB
konflik myanmarrohingyapengungsi rohingya
Kehidupan Etnis Rohingya di Rakhine Serba Terbatas
Peneliti Amnesty International di Myanmar, Elise Tillet (Foto: Marcheilla Ariesta).

Jakarta: Warga Etnis Rohingya menjalani hidup penuh dengan keterbatasan. Hal ini yang disampaikan peneliti Amnesty International di Myanmar, Elise Tillet dalam laporannya.

Menurut dia, selama berada di sana, sejak 2012 etnis Rohingya sudah mengalami keterbatasan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

"Sejak 2012, warga Rohingya di Rakhine dibatasi jika ingin bepergian antarwilayah maupun antarkota. Mereka harus mendapat surat persetujuan dari otoritas setempat," ujarnya dalam acara Laporan Amnesty International dalam Diskriminatif Sistem pada Rohingya, di Hotel Puri Denpasar, Jakarta, Selasa 21 November 2017.

Dia mengungkapkan bahwa para warga Rohingya tersebut tidak bisa keluar dari desa mereka mulai dari jam 6.00 sore sampai 6.00 pagi. Tak hanya itu, mereka juga tidak boleh lewat jalan darat, melainkan harus melewati jalur perairan.

Semua pembatasan tersebut hanya diberikan kepada warga etnis Rohingya. "Mereka juga susah jika hendak ke rumah sakit. Pasalnya, mereka tidak diperbolehkan mengakses rumah sakit lokal. Kalau ingin berobat harus ke Sittwe," ungkapnya.

Elise mengatakan jika ada warga Rakhine yang mendapat perawatan di rumah sakit, disediakan ruangan dengan tembok terpisah. Tak hanya itu, mereka juga dijaga polisi di rumah sakit.

"Karena susahnya izin tersebut, mereka akhirnya mengandalkan pengobatan tradisional jika menderita sakit," imbuh dia.

Pembatasan ini juga berlaku pada pendidikan. Warga etnis Rohingya tidak bisa mengakses pendidikan umum di wilayah Rakhine dan Myanmar lain. Karenanya, mereka mengandalkan warga Rohingya yang berpendidikan hingga Sekolah Menengah Pertama untuk mengajarkan pendidikan bagi para anak-anak etnis Rohingya.

Amnesty International, dalam laporannya menyebutkan bahwa ditemukan peraturan diskriminatif terutama terhadap warga Rohingya di Rakhine. Hal ini kemudian mengakibatkan 'pemindahan' warga, terutama etnis Rohingya ke negara tetangga, Bangladesh.

Dengan pemindahan paksa tersebut, menyebabkan kosongnya etnis Rohingya di Rakhine. Peneliti Amnesty International di Myanmar, Elise Tillet melaporkan bahwa pada 2012 lalu, sebelum krisis kemanusiaan pertama kali di wilayah Rakhine, jumlah etnis Rohingya di sana berjumlah sekitar 80 persen.

Sebanyak 600 ribu warga Rohingya saat ini tinggal di kemah-kemah pengungsian Bangladesh. Sementara yang ada di Myanmar hanya sekitar 100 ribu. 

Para warga Rohingya ini mengungsi karena desa mereka dibakar, sehingga mereka tak lagi memiliki tempat tinggal layak. Namun, meski mereka saat ini ditampung di kemah pengungsian, kondisinya tetap jauh dari layak.



(FJR)