Bali Democracy Forum ke-11

Demokrasi Inklusif Bisa Jadi Jawaban Tantangan Kondisi Dunia

Fajar Nugraha    •    Jumat, 07 Dec 2018 13:55 WIB
bali democracy forum
Demokrasi Inklusif Bisa Jadi Jawaban Tantangan Kondisi Dunia
Wakil Menteri Luar Negeri AM Fachir menutup gelaran Bali Democracy Forum ke-11 di Nusa Dua, Jumat, 7 Desember 2018. (Foto: Fajar Nugraha/Medcom.id).

Nusa Dua: Wakil Menteri Luar Negeri AM Fachir menutup Bali Democracy Forum (BDF) ke-11, di Nusa Dua, Jumat 7 Desember 2018. Keunikan dari BDF dalam membahas demokrasi tetap terjaga.

“(BDF ke-11) ini adalah pertemuan pertama dari dekade kedua dari forum. Setelah diskusi selama dua hari, format dari pertemuan telah disesuaikan untuk memungkinkan lebih banyak interaksi dan diskusi,” ujar Wamenlu Fachir, dalam penutupan BDF ke-11, di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Jumat, 7 Desember 2018.

“Ini menjadi keunikan dari Bali Democracy Forum. Seluruh partisipan sangat nyaman untuk saling bertukar pandangan, pengalaman dan cara untuk menghadapi tantangan. Semua dilakukan untuk menempuh perjalanan mencapai nilai demokrasi,” tutur Wamenlu Fachir.

“BDF jelas sangat unik karena merangkul dan memperkuat demokrasi tanpa menunjuk hidung,” tegasnya.

Wamenlu menyoroti tantangan yang dihadapi dalam demokrasi, yang tentunya bisa memberikan kemakmuran kepada warga. Salah satu solusi yang dilakukan Indonesia melalui forum BDF ini, mengupayakan sebuah tatanan demokrasi yang inklusif.

Menurut Wamenlu, Demokrasi Inklusif adalah demokrasi yang mempersatukan bukan memecah belah, menyediakan harapan bukan ketakutan dan memberdayakan bukan melemahkan. Mencapai demokrasi yang inklusif, partisipasi dari semua pihak sangatlah vital terutama di sektor swasta, pemuda dan perempuan.

“Stabilitas, pemerintah yang baik dan jalannya aturan hukum adalah kunci utama berfungsingnya sebuah demokrasi. Konsultas publik memungkinkan pemerintah mengerti pandangan dan aspirasi rakyatnya. Lebih lanjut, mengadopsi inovasi teknologi akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi,” lanjut mantan Duta Besar RI untuk Arab Saudi itu.

Tetapi satu hal yang menjadi perhatian Fachir mengenai demokrasi, bahwa demokrasi itu adalah proses yang terus berjalan. Nilai demokrasi seharusnya tidak mereduksi menjadi ukuran tradisional mengenai kemakmuran tetapi melainkan dengan pendekatan holistik.

Ada dua hal forum yang dilakukan bersamaan dengan Bali Democracy Forum ke-11 ini. Pertama adalah Bali Democracy Student Conference ke-2, dimana forum ini ditujukan untuk menurunkan semangat demokrasi kepada para pemuda. Pemuda dan pendidikan adalah dua variabel tak terpisahkan untuk mencapai perubahan positif di masyarakat.

Kemudian Wamenlu melihat Bali Civil Society and Media Forum 2018 yang dianggap sebagai pentingnya berbagai pengalaman dan saling belajar antara masyarakat sipil dengan media untuk menghadapi tantangan demokrasi.


(FJR)