Rusia Fokus Basmi Teroris di Suriah, Bukan Lindungi Assad

Willy Haryono    •    Rabu, 30 Nov 2016 14:01 WIB
krisis suriah
Rusia Fokus Basmi Teroris di Suriah, Bukan Lindungi Assad
Dubes Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin dalam pertemuan rutin dengan awak media di kediamannya di Jakarta, 30 November 2016. (Foto: MTVN/Willy Haryono)

Metrotvnews.com, Jakarta: Rusia menyayangkan sikap negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat (AS), yang hampir selalu berpikiran buruk terhadap sejumlah langkah dan kebijakan Negeri Beruang Merah di kancah global.

Contohnya dapat dilihat dari konflik di Suriah. Rusia kesal karena selalu dituduh hanya ingin melindungi rezim Presiden Bashar al-Assad, bukan untuk melawan kelompok teroris seperti Islamic State (ISIS). 

Keterlibatan Rusia dalam perang sipil di Suriah berlangsung sejak 30 September 2015. 


Presiden Suriah Bashar al-Assad. (Foto: AFP)

"Kami bertindak sesuai norma dan hukum internasional yang berlaku. Kami bekerja sama dengan pemerintah sah dari negara berdaulat Suriah, dengan tujuan menghilangkan ISIS, Jabhat al-Nusra dan sejenis lainnya, yang teridentifikasi sebagai kelompok teroris oleh Dewan Keamanan PBB," ujar Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin dalam rilis yang diterima Metrotvnews.com, Rabu (30/11/2016). 

Dubes Galuzin menegaskan seharusnya kecaman dan kritikan komunitas global dilayangkan kepada AS. Ia menilai AS telah ikut campur dalam konflik di Suriah secara ilegal, dengan melancarkan serangan udara tanpa persetujuan DK PBB dan pemerintah berdaulat. 

Moskow menuduh tujuan utama pemerintah Barat di Suriah bukan menumpas teroris, melainkan berusaha menggulingkan pemerintahan Assad.

Baca: Ribuan Warga Berduyun-duyun Tinggalkan Aleppo Timur

"Angkatan Udara AS melakukan operasi di Suriah tanpa persetujuan pemerintah sah. Hal ini merupakan contoh nyata pelanggaran hukum internasional," kata Dubes Galuzin.

Selain itu, Rusia juga menilai AS telah gagal memenuhi janji mereka untuk membedakan antara oposisi moderat dengan teroris, termasuk pada kelompok Jabhat al-Nusra. 

"Tampaknya ada yang berkeinginan memberikan perlindungan kepada organisasi teroris ini dari penyerangan dan berusaha melindungi serta memeliharanya guna menggulingkan pemerintahan sah dan berdaulat di Suriah," tutur Dubes Galuzin. 

Menurut data grup pemantau Syrian Observatory for Human Rights, konflik berkepanjangan di Suriah yang telah memasuki tahun kelima telah menelan lebih dari 400 ribu jiwa. Sementara data UNHCR mencatat konflik di Suriah telah membua lebih dari tujuh juta warga kehilangan tempat tinggal.

 


(WIL)