HRW: Makin Banyak Desa Rohingya Dihancurkan di Myanmar

Arpan Rahman    •    Senin, 21 Nov 2016 17:09 WIB
konflik myanmar
HRW: Makin Banyak Desa Rohingya Dihancurkan di Myanmar
Pasukan Myanmar yang berada di perbatasan (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Sittwe: Lebih dari 1.000 rumah di desa-desa Rohingya telah diratakan dengan tanah di Rakhine, Myanmar. Aksi penghancuran itu dipaparkan berdasarkan analisis citra satelit dari Human Rights Watch (HRW) yang dirilis, Senin 21 November. 
 
Analisa ini mementahkan bantahan pemerintah Myanmar. Sejumlah pasukan telah dikerahkan ke lokasi di sepanjang perbatasan Bangladesh, sebuah kawasan yang sebagian besar menjadi tempat tinggal bagi warga-tanpa-kewarganegaraan minoritas Muslim Rohingya. Terjunnya pasukan dipicu serangkaian serangan terkoordinasi dan mematikan di pos perbatasan polisi, bulan lalu.
 
"Hingga 30.000 orang telah mengungsi akibat kekerasan yang berlanjut," menurut PBB seperti dikutip AFP, Senin (21/11/2016). 
 
Setengah dari mereka melarikan diri selama dua hari ketika puluhan orang tewas setelah militer menyerbu dengan helikopter tempur.
 
Pasukan keamanan sudah menewaskan hampir 70 orang dan menangkap lebih dari 400 lainnya sejak pengepungan dimulai, enam pekan lalu, menurut laporan media pemerintah. Namun, aktivis mengatakan, jumlahnya mungkin jauh lebih banyak.
 
Ratusan warga etnis Rohingya, yang telah lama dianiaya oleh pemerintah dan rakyat Myanmar. Mereka telah mencoba melarikan diri dari kekerasan ke negeri tetangga, Bangladesh.
 
Para saksi dan aktivis telah melaporkan tentara membunuhi orang Rohingya, memperkosa para perempuan, menjarah, dan membakar rumah-rumah mereka. Tetapi pemerintah menolak mengizinkan pengamat internasional untuk menyelidiki.
 
Sebaliknya pemerintahan baru Myanmar, yang dipimpin pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi, menolak berbagai tuduhan. Seraya berkilah, tuduhan itu bagian dari kampanye informasi keliru yang ditanam oleh "teroris".
 
Pihak independen yang memverifikasi fakta di lapangan telah terhambat pembatasan yang signifikan terhadap wartawan dan badan-badan bantuan mencapai daerah tersebut. Tapi bukti kerusakan luas di desa-desa itu amat banyak.
 
HRW menyatakan, pada Senin, telah mengidentifikasi 820 rumah lebih yang telah hancur di lima desa Rohingya antara 10-18 November menggunakan citra satelit.
 
Secara total, kelompok hak asasi itu mengatakan analisisnya menunjukkan 1.250 bangunan telah dihancurkan selama kepungan militer.
 
"Alih-alih menanggapi, dengan gaya era-militer malah balik menuduh dan membantah, padahal pemerintah harusnya melihat fakta," kata direktur Asia HRW, Brad Adams.
 
Pemerintah mengatakan kurang dari 300 rumah telah hancur dalam serangan pihak militan yang ingin "menabur benih kesalahpahaman antara pasukan pemerintah dan masyarakat".
 
Bangkitnya kekerasan di negara bagian Rakhine barat telah memperdalam krisis yang sudah merupakan tantangan penting bagi pemerintahan Suu Kyi setelah tujuh bulan mengambil alih kekuasaan.
 
Lebih dari 100 orang tewas pada 2012 dalam bentrokan antara penduduk mayoritas Buddha lawan Muslim Rohingya, dan puluhan ribu dari mereka terusir ke kamp-kamp pengungsian.
 
Pada Jumat 18 November, pelapor khusus PBB urusan Myanmar, Yanghee Lee, mengkritik penanganan pemerintah atas krisis dan menyerukan "tindakan mendesak" demi melindungi warga sipil.
 
"Pasukan keamanan tidak boleh diberikan kekuasaan penuh untuk meningkatkan operasi mereka," katanya dalam sebuah pernyataan.

 

 
(FJR)