Jejak Langkah Pengembangan Senjata Nuklir Korea Utara

Arpan Rahman    •    Minggu, 22 Apr 2018 15:11 WIB
nuklir korea utara
Jejak Langkah Pengembangan Senjata Nuklir Korea Utara
Pemimpin Korut Kim Jong-un (Foto:Jung Yeon-je)

Pyongyang: Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un telah menyatakan bahwa Pyongyang akan menghentikan uji coba nuklir dan peluncuran rudal antarbenua terhitung lima bulan setelah peluncuran ICBM terakhirnya di tengah cepat mencairnya kebekuan diplomatik .

Sejumlah peristiwa kunci terkait pengembangan senjata nuklir terlarang dan program rudal balistik dari rezim Korut, berikut dicatat AFP, Sabtu 21 April 2018:

Awal 1970-an

Korut mulai bekerja di akhir 1970-an dengan versi rudal Soviet Scud-B yang berjangkauan sekitar 300 kilometer, melakukan tes pertama pada 1984.

Antara 1987-1992, Korut mulai mengembangkan rudal jarak jauh termasuk Taepodong-1 (2.500 km) dan Taepodong-2 (6.700 km).

Taepodong-1 meluncur di atas angkasa Jepang pada 1998, tetapi Pyongyang mendeklarasikan moratorium saat hubungan dengan Amerika Serikat membaik setahun setelahnya

Tes nuklir pertama pada 2006

Mengakhiri moratorium pada 2005, sambil menyalahkan kebijakan anti-Korut dari pemerintahan Bush, melakukan uji coba nuklir kembali pada 9 Oktober 2006.

Pada Mei 2009, tes nuklir bawah tanah kedua, beberapa kali lebih kuat daripada yang pertama. 

Kim Jong Un menggantikan ayahnya Kim Jong Il, yang meninggal pada Desember 2011, dan mengawasi uji coba nuklir ketiga pada 2013.

2016, meluncur ke perairan Jepang 

Uji coba nuklir bawah tanah keempat dilancarkan pada Januari 2016, yang diklaim Pyongyang sebagai bom hidrogen.

Pada Maret, Kim Jong Un mengklaim Korut telah berhasil mengecilkan hulu ledak termonuklir. Kemudian, sebulan setelahnya, ia menguji-coba rudal balistik kapal selam yang diluncurkan.

Pada 3 Agustus, pertama kali, menembakkan rudal balistik ke perairan yang dikontrol Jepang. Belakangan, pada bulan yang sama, ia berhasil menguji-tembak rudal balistik yang diluncurkan oleh kapal selam.

Uji nuklir kelima dilakukan pada 9 September.

2017, Jepang dan Guam terancam

Antara Februari-Mei, Korut menguji serangkaian rudal balistik yang jatuh ke Laut Jepang. Pyongyang mengklaimnya latihan guna memukul pangkalan AS di Jepang.

Pada 14 Mei, tes roket balistik strategis jarak menengah atau jarak jauh bernama Hwasong. Roket itu terbang 700 kilometer sebelum mendarat di Laut Jepang.

Dua bulan kemudian, Korut mengumumkan berhasil mengetes ICBM yang mampu mencapai Alaska bertepatan dengan hari kemerdekaan AS. Negara tersebut melakukan tes ICBM kedua di bulan yang sama.

Tes nuklir terbesar

Pada 3 September, Korut menguji-coba nuklirnya yang keenam dan terbesar, yang diperkirakan berkekuatan 250 kiloton, atau 16 kali lebih besar dari bom AS yang menghancurkan Hiroshima pada 1945.

Pada 15 September, kurang dari sepekan menyusul PBB mengadopsi serangkaian sanksi kedelapan, Korut menembakkan rudal jarak menengah ke arah Jepang.

Pada 20 November, Washington menyatakan Korut sebagai negara sponsor terorisme, sehari sebelum menambah tekanan pada negara yang terisolasi itu dengan sanksi baru.

Pada 29 November, Korut meluncurkan Hwasong-15 ICBM baru, yang diklaimnya dapat mengirimkan hulu ledak berat ke mana saja di daratan AS.

Beberapa pekan kemudian, pada 13 Desember, Kim berjanji menjadikan Korut "kekuatan nuklir terkuat di dunia".

Olimpiade melonggarkan ketegangan, 2018

Dalam pidatonya di Tahun Baru, Kim menyatakan bahwa pengembangan kekuatan nuklir Korut telah selesai.

Diredam oleh Olimpiade Musim Dingin di Korea Selatan, pencairan ketegangan diplomatik cepat dimulai, pada Februari.

Pada 21 April, Pyongyang menyatakan bahwa ledakan nuklir dan peluncuran ICBM akan segera dihentikan dan tempat uji atom di Punggye-ri akan dibongkar demi "menjamin secara transparan" akhir uji coba.

Kim menambahkan, kepemilikan senjata nuklir adalah "jaminan kuat bahwa anak-keturunan kita dapat menikmati kehidupan yang paling bermartabat dan paling bahagia di dunia".


(WAH)