Menlu RI Dorong Masuknya Bantuan Kemanusiaan Jadi Prioritas Myanmar

Marcheilla Ariesta    •    Sabtu, 09 Sep 2017 18:28 WIB
rohingya
Menlu RI Dorong Masuknya Bantuan Kemanusiaan Jadi Prioritas Myanmar
Menlu Retno L.P Marsudi saat bertemu Aung San Suu Kyi 4 September 2017 (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Luar Negeri Retno Marsudi terus mendorong pemerintah Myanmar untuk membuka akses bantuan kemanusiaan bagi etnis Rohingya di Rakhine. Pasalnya, hanya Indonesia negara yang diberikan akses untuk memberikan bantuan dari luar bagi penduduk di perbatasan Myanmar-Bangladesh tersebut.
 
"Yang penting bantuan kemanusiaan diutamakan saat ini, dan kekerasan dihentikan," ujar Menlu Retno kepada Metrotvnews.com, Sabtu 9 September 2017.
 
Untuk akses bantuan kemanusiaan, Retno menuturkan prinsip sudah ditentukan pemerintah Myanmar. "Saat ini mekanisme masih harus dibahas, karena semua bantuan tetap melewati Pemerintah Myanmar," imbuhnya.
 
 
Duta Besar RI untuk Myanmar Ito Sumardi mengatakan, hingga saat ini pengiriman bantuan kemanusiaan masih terus berjalan. Meski demikian, medan yang berat dan sarana transportasi kurang memadai menjadi kendala lamanya bantuan kemanusiaan itu tersalurkan.
 
"Masih berjalan saat ini (mekanisme bantuan kemanusiaan). Hanya kendalanya medan yang sangat berat dan alat transportasi yang bisa mencapai sasaran dalam waktu cepat (kurang memadai)," seru Ito.
 
Tidak memakai cara yang menekan, membuat Indonesia menjadi satu-satunya negara yang bisa memberikan bantuan bagi penduduk di Rakhine, wilayah yang mengalami gejolak di Myanmar. Pendekatan inklusif yang dilakukan lewat Menteri Luar Negeri Retno Marsudi membuat Indonesia hingga saat ini dianggap sebagai negara sahabat.
 
"Sampai saat ini, Indonesia dianggap sebagai negara sahabat, makanya pesan kita direspons dan kemudian situasi menjadi kondusif sehingga kita bisa memberikan bantuan kemanusiaan," tutur Ito.

(Baca: Indonesia Tumpuan Dunia Selesaikan Konflik di Rakhine)

Bantuan yang diserahkan pemerintah Indonesia kepada masyarakat di Rakhine, berupa 10 kontainer berisi pakaian dari Presiden Joko Widodo dan dua sekolah yang dibangun oleh aliansi kemanusiaan Indonesia yang disponsori PKPU. Tentunya, pemerintah turut ambil andil dengan membantu menyiapkan alat-alat sekolah dan perlengkapannya.
 
Selain itu, Ito menambahkan, Menlu Retno juga menyampaikan langkah-langkah konstruktif untuk kerja sama di bidang pembanguan  sosial, ekonomi, pembangunan kapasitas untuk keamanan di sana.
 
"Kita tekankan ke keamanan karena yang dipermasalahkan adalah pelanggaran hak asasi manusia oleh aparat di sana. Dan semua ini sudah disetujui (pemerintah Myanmar)," sambung Ito.
 
Awal pekan ini, Menlu Retno bertemu dengan pemimpin de facto Myanmar Daw Aung San Suu Kyi di Naypyitaw. Dalam pertemuan tersebut Menlu Retno menyampaikan keprihatinan dan amanah dari masyarakat Indonesia atas krisis kemanusiaan di Rakhine State.
 
Menlu Retno juga menyampaikan usulan formula 4+1 dalam mengatasi situasi di Rakhine. (Baca: Bertemu Suu Kyi, Menlu RI Sampaikan Empat Usulan Indonesia).
 
Empat pertama mengenai perdamaian dan keamanan, kedua perlindungan maksimum, menahan diri dan tanpa kekerasan, ketiga perlindungan tanpa memandang etnis dan agama, serta akses penyaluran bantuan kemanusiaan," ujar Menlu Retno.
 
Retno menambahkan selain empat usulan tersebut, satu lainnya adalah implementasi laporan Kofi Annan, Ketua Komisi Penasihat Negara Bagian Rakhine yang ditunjuk Pemerintah Myanmar sendiri. Menurut Retno, Suu Kyi menanggapi positif usulan dengan formula 4+1 yang disampaikan Indonesia.
 
Sementara itu, Retno mengakui dia dan Suu Kyi membicarakan hal yang lebih detail mengenai akses bantuan kemanusiaan ke Negara Bagian Rakhine.
 
Terkait krisis ini, Menlu Retno mengaku akan menghubungi koleganya para menlu ASEAN untuk membicarakan bantuan kemanusiaan.
 
"Saya akan melakukan komunikasi dengan para Menlu ASEAN terkait bantuan kemanusiaan. Indonesia dan ASEAN termasuk di antara pihak yang terlibat dalam penyaluran bantuan kemanusiaan. Ini langkah yang patut kita apresiasi," ungkap Menlu Retno.
 
Di samping itu, Menlu Retno juga berharap agar Myanmar bisa menuju negara yang demokratis dari pengalaman Indonesia. Pembicaraan ini pun sudah dimulai dari beberapa waktu yang lalu.

 


 


(FJR)

Bersama Membantu Rohingya

Bersama Membantu Rohingya

1 hour Ago

AUNG San Suu Kyi oleh dunia internasional sesungguhnya dinilai memiliki semua prasyarat yang diperlukan…

BERITA LAINNYA