Malaysia Minta Myanmar Ambil Pendekatan Holistik atas Krisis Rakhine

Willy Haryono    •    Minggu, 03 Sep 2017 11:57 WIB
konflik myanmarrohingyapengungsi rohingya
Malaysia Minta Myanmar Ambil Pendekatan Holistik atas Krisis Rakhine
PM Malaysia Najib Razak. (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Kuala Lumpur: Perdana Menteri Malaysia Najib Razak mengecam gelombang kekerasan terbaru antara kelompok militan dengan pasukan keamanan Myanmar di Rakhine, Myanmar. 

Gelombang kekerasan tersebut dilaporkan telah menewaskan 100 Muslim Rohingya, di mana ribuan lainnya melarikan diri ke perbatasan Bangladesh. 

"Kami menyerukan kembali seruan Sekretaris Jenderal PBB terhadap pasukan keamanan Myanmar untuk mencari pendekatan holistik dalam mengatasi krisis di Rakhine," tulis PM Najib di akun Twitter, Minggu 3 September 2017. 

"Kami mendesak penurunan ketegangan dan meminta semua pihak menahan diri. Situasi mengerikan yang dihadapi saudara saudari Rohingya kita harus diatasi demi kebaikan Myanmar dan kawasan," lanjut dia. 

Sedikitnya 104 orang, termasuk 12 anggota pasukan keamanan, tewas di negara bagian Rakhine sesudah militan Rohingya yang dinamakan Tentara Pembebasan Arakan Rohingya (ARSA) menyerang polisi pada Jumat 25 Agustus. Aksi itu menjadi pertempuran paling berdarah sejak pertikaian meletus tahun lalu.

Operasi perburuan militan yang dilancarkan militer Myanmar memaksa Rohingya melarikan diri ke perbatasan, termasuk ke negara tetangga Bangladesh.

Kecaman atas kekerasan di Rakhine dialamatkan banyak pihak ke pemerintah Myanmar. Unjuk rasa juga digelar di Indonesia sebagai bentuk protes atas sikap diam Myanmar, terutama pemimpin de facto Aung San Suu Kyi. 

Baca: Pengungsi Rohingya: Kami Disebut Teroris

Komitmen Indonesia

Sebagai peraih nobel perdamaian, Suu Kyi dinilai kurang dapat mengambil tindakan tegas dalam mengakhiri kekerasan di Rakhine. 

Sementara itu Indonesia melalui Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menegaskan komitmennya terhadap Rohingya di Myanmar dengan membangun rumah sakit di Rakhine.

Retno mengungkapkan upaya konkret Indonesia terkait Rohingnya sudah cukup lama. Terutama pascaperistiwa yang terjadi di Rakhine pada Oktober 2016.

"Pada Januari (2017) saya bersama dengan LSM-LSM Kemanusiaan Indonesia, berada di lapangan, di Rakhine state, untuk menyampaikan bantuan Indonesia," ucap dia.

Sejauh ini, lanjut Retno, Indonesia telah membangun sebanyak enam unit sekolah di Rakhine. Termasuk pemberian capacity building terkait kesehatan dan pendidikan kepada warga setempat.

 


(WIL)