Tingkat Infeksi HIV di Filipina Tertinggi di Asia Pasifik

Willy Haryono    •    Rabu, 02 Aug 2017 16:43 WIB
aids
Tingkat Infeksi HIV di Filipina Tertinggi di Asia Pasifik
Quezon menjadi kota pertama di Filipina yang membuka klinik untuk pengidap HIV AIDS. (Foto: UNAIDS)

Metrotvnews.com, Manila: Anggota parlemen, aktivis dan pakar kesehatan di Filipina menyerukan diberlakukannya status darurat nasional atas tingginya tingkat infeksi human immunodeficiency virus atau HIV. 

Data terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan bahwa tingkat infeksi HIV di Filipina adalah yang tertinggi di Asia Pasifik. 

Presiden Rodrigo Duterte diminta segera mengambil langkah cepat, setelah laporan UNAIDS menunjukkan bahwa Filipina mengalami lonjakan 140 persen terkait tingkat infeksi HIV antara 2010 dan 2016, dari 4.300 menjadi 10.500 kasus. 

"Pemerintah harus memfokuskan waktu dan sumber daya atas masalah darurat ini. Kita tidak bisa membiarkan penyakit ini merenggut nyawa banyak pemuda," kata Senator Risa Hontiveros dari Komite Senat Kesehatan Filipina, Rabu 2 Agustus 2017. 

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Filipina pada Mei 2017, terdapat lebih dari 1.000 kasus baru HIV-AIDS. Ini merupakan angka tertinggi infeksi HIV di Filipina sejak kasus pertamanya tercatat pada 1984. 

Sekitar 97 persen dari infeksi HIV itu ditularkan melalui kontak seksual, terutama antara pria yang berhubungan seks dengan pria. 

"Pendidikan seksualitas dan seks aman seolah diabaikan, dan sayangnya, hal itu berimbas pada kesehatan pemuda kita. Sebagian besar kasus baru ini di antara warga berusia 15 hingga 24," ungkap Hontiveros, seperti dikutip Philippine News Agency.

Kepala dari IDS Research Group of the Research Institute for Tropical Medicine, Rossana Ditangco, menyebut bahwa dalam waktu kurang dari 10 tahun, lebih dari 90 persen pengidap AIDS di Filipina akan berada di segmen usia di bawah 30. 

"Kita tidak dapat mengendalikan meningkatnya infeksi HIV yang sangat cepat ini," kata dia. "Ini saatnya pemerintah memperlakukan HIV sebagai masalah darurat nasional," sambung dia.


(WIL)