Pengadilan Tunda Sidang Kasus Korupsi Mantan Perdana Menteri Pakistan

Arpan Rahman    •    Jumat, 03 Nov 2017 19:06 WIB
pakistan
Pengadilan Tunda Sidang Kasus Korupsi Mantan Perdana Menteri Pakistan
Mantan Perdana Menteri Pakistan Nawaz Sharif memberikan keterangan pers di London, Inggris pada 1 November 2017 (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Islamabad: Perdana Menteri terguling Pakistan Nawaz Sharif muncul di depan sebuah pengadilan anti-korupsi, Jumat 3 November. Namun sidang ditunda sampai 7 November dalam kasus korupsi terhadap dirinya, anak perempuan, dan menantunya yang terkuak dari skandal Panama Papers.
 
Sharif, 67, dan beberapa anggota keluarganya menghadapi tuduhan terkait kepemilikan properti di London.
 
Dia mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri pada Juli menyusul Mahkamah Agung negara tersebut mendiskualifikasi dia karena pendapatan yang tidak diumumkan.
 
Tiga kasus didaftarkan oleh National Accountability Bureau (NAB) pada 8 September melawan Sharif, anak-anaknya, dan menantunya di Accountability Court Islamabad (ACI), setelah diadili oleh Mahkamah Agung.
 
Sharif, yang pulang ke rumah dari London pada Kamis 2 November, hadir di pengadilan bersama dengan tim kuasa hukumnya.
 
Dia pergi ke London sebulan lalu bersama istrinya yang sedang sakit, Kulsoom Nawaz, yang sedang memerangi kanker tenggorokan. Putrinya Maryam dan suaminya Muhammad Safdar juga hadir di muka pengadilan.
 
Pada awal sidang, pembela meminta hakim untuk mempertimbangkan putusan Pengadilan Tinggi Islamabad (IHC), yang kemarin memerintahkan ACI untuk mendengar kembali permohonan bahwa tiga kasus Sharif harus diadili serempak.
 
Pengadilan anti-korupsi, bulan lalu, menolak permohonan Sharif karena ketiga kasus tersebut berkaitan dengan aset yang tidak dapat dipastikan. Maka menurut undang-undang harus dianggap sebagai satu kasus tunggal.
 
Keputusan tersebut dibanding di IHC yang merujuk kasus ini ke ACI dengan perintah untuk menggelarnya kembali.
 
Namun, IHC tidak mengeluarkan vonis terperinci dan pengacara Sharif meminta pengadilan untuk menunda persidangan sampai sebuah keputusan yang komprehensif. Pengadilan kemudian menunda persidangan sampai 7 November.
 
Sharif berkata kepada media bahwa dia menjadi korban. Juga mengatakan bahwa pemimpin Partai Rakyat Pakistan Asif Ali Zardari berbicara melawan dia "untuk menyenangkan seseorang".
 
"Saya tidak perlu mengatakan apapun karena situasi dan tindakan sekarang ada di depan mata semua orang," katanya seperti dikutip The Hindu, Jumat 3 November 2017.
 
Pengaturan keamanan yang ketat dibuat di sekitar kompleks peradilan demi menghadapi situasi yang tidak diinginkan.
 
Sharif didakwa absen dalam tiga kasus. Maryam dan Safdar telah didakwa dalam satu kasus bersama dengan ayahnya. Sementara pengadilan melanjutkan secara terpisah kasus terhadap kedua putranya Husain dan Hasan yang didakwa secara bersama-sama dalam tiga kasus.
 
Pengadilan selama persidangan 9 Oktober memutuskan untuk memisahkan persidangan anak-anaknya dari Sharif dan anak perempuan serta menantu laki-lakinya.
 
Kasus-kasus tersebut didasarkan pada keputusan diskualifikasi 28 Juli dari Mahkamah Agung. Diikuti peluncuran tiga kasus korupsi terhadap dirinya, keluarganya, dan satu kasus terhadap Menteri Keuangan Ishaq Dar.
 
Masa depan politik Sharif, yang memimpin klan politik paling kuat di negara tersebut dan partai PML-N yang berkuasa, telah mengalami guncangan sejak saat itu. Jika terbukti bersalah, Sharif bisa dipenjara. Keluarga Sharif menuding kasus tersebut bermotif politik.



(FJR)