Wakil Presiden Myanmar Khawatirkan Eksodus Pengungsi Rakhine

Fajar Nugraha    •    Kamis, 21 Sep 2017 19:08 WIB
konflik myanmarrohingyapengungsi rohingya
Wakil Presiden Myanmar Khawatirkan Eksodus Pengungsi Rakhine
Wapres Myanmar Henry Van Thio berbicara mengenai krisis Rakhine di PBB (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, New York: Wakil Presiden Myanmar Henry Van Thio berkomentar tentang krisis yang terjadi di Rakhine, terutama mengenai nasib etnis Rohingya.
 
Berbicara pada Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat (AS), Van Thio mengungkapkan bahwa pemerintahan Myanmar saat ini mengkhawatirkan eksodus warga dari wilayah Rakhine ke Bangladesh. Thio menyebutkan masalah ini masih diselidiki.
 
"Pemicu dari krisis yang terjadi masih belum jelas dan sebagian besar warga Muslim di wilayah itu masih bertahan," ujar Wapres Van Thio, seperti dikutip AFP, Kamis 21 September 2017.
 
"Bisa saya katakan, situasi saat ini masih berkembang lebih baik," tegasnya.
 
Ucapan dari Van Thio ini serupa dengan yang diutarakan oleh pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi. Menurut Suu Kyi, tidak ada tindakan kekerasan atau pembersihan etnis terjadi sejak 5 September. Ucapan Suu Kyi itu kemudian dibantah banyak pihak.
 
 
Wapres Van Thio sendiri datang ke Sidang Majelis Umum PBB untuk menggantikan Suu Kyi, yang membatalkan kehadirannya. Van Thio menambahkan bahwa yang mengungsi bukan saja warga Muslim Rohingya.
 
"Etnis minoritas lainnya juga mengungsi dan pihak keamanan sudah diminta mengambil langkah menghindari jatuhnya korban dan tidak melukai warga sipil," tuturnya.
 
Militer Myanmar selama ini dianggap sebagai pelaku kekerasan yang terjadi di Rakhine. Sejak kekerasan pecah pada 25 Agustus lalu, sudah ada sekitar 400 ribu warga Rakhine yang menyeberang ke Bangladesh.
 
Bantuan langsung ke Rakhine
 
Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Retno L.P Marsudi menyatakan bahwa bantuan dari masyarakat Indonesia untuk warga di Rakhine, sudah mendapatkan izin masuk ke Myanmar.
 
 
Menurut Menlu Retno, bantuan sudah bisa dikirim setelah pemerintah Indonesia, Myanmar dan Palang Merah Internasional membahas mengenai mekanisme pengirimannya.
 
Lebih dari dua pekan setelah Menlu Retno mengunjungi Myanmar untuk bertemu dengan State Counsellor Aung San Suu Kyi, bantuan kemanusiaan Indonesia bisa dikirimkan. Dalam pertemuan dengan wartawan Indonesia di sela menghadiri Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Menlu Retno mengatakan izin penerbangan dan administrasi lainnya sudah diselesaikan.
 
"Bantuan kemanusiaan kita untuk ke Myanmar sudah dapat berangkat, karena flight clearence dan macam-macamnya sudah diperoleh dan rencana besok bantuan kemanusiaan Indonesia akan diterbangkan ke Myanmar," ujar Menlu Retno, di New York, Rabu 20 September 2017.
 
Menlu Retno menyebutkan bantuan kemanusiaan itu akan diterbangkan ke Myanmar melalui Bandara Internasional Yangoon dan akan dibawa melalui darat ke Rakhine State.

 

 
(FJR)