Protes Pro Demokrasi di Hong Kong Meredup

Arpan Rahman    •    Senin, 02 Jul 2018 16:35 WIB
hong kong
Protes Pro Demokrasi di Hong Kong Meredup
Aktivis pro demokrasi berunjuk rasa di lapangan Civil Square, 1 Juli 2018. (Foto: AFP/PHILIP FONG)

Hong Kong: Unjuk rasa pro demokrasi tahunan di Hong Kong hanya diikuti segelintir peserta, dan tercatat paling sedikit dalam sejarah pada Minggu 1 Juli 2018.

Para pengunjuk rasa menandai ulang tahun ke-21 kembalinya bekas koloni Inggris ke pemerintahan Tiongkok.

Penyelenggara mengatakan ada 50 ribu orang ikut andil dalam demonstrasi, sementara polisi hanya menyebut ada 9.800 peserta. Gerakan pro-demokrasi Hong Kong telah melemah sejak tahun lalu, dengan ditangkapnya sejumlah aktivis terkemuka.

Hong Kong dikembalikan ke Tiongkok pada 1997. Lewat formula "satu negara, dua sistem", Hong Kong menikmati otonomi tingkat tinggi, namun bukan demokrasi penuh.

Demonstrasi jalanan besar-besaran di Hong Kong meletus pada 2014. Para pengunjuk rasa menuduh Tiongkok semakin menjajah kawasan mereka.

Ratusan polisi dikerahkan saat para demonstran berbaris melewati ruas jalan-jalan pada akhir pekan kemarin. Para pedemo membawa spanduk, beberapa memegang payung kuning sebagai simbol aktivisme demokratis.

Sejumlah pengunjuk rasa mengenakan topeng Pinocchio yang menggambarkan Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam. Carrie dinilai para aktivis pro demokrasi sebagai wakil dari kepentingan Beijing.

Dilansir dari BBC, Senin 2 Juli 2018, aktivis pro demokrasi Joshua Wong, yang terkenal karena perannya dalam protes pada 2014, berbicara kepada para pendukung dalam demonstrasi.

Menanggapi protes terbaru, pemerintah setempat mengatakan bahwa melantunkan slogan-slogan yang tidak menghormati formula satu negara, dua sistem "tidak sejalan dengan kepentingan keseluruhan Hong Kong dan akan merusak perkembangannya."


(WIL)