Punya Banyak Kerja Sama, Maroko Ingin jadi Mitra ASEAN

Marcheilla Ariesta    •    Selasa, 13 Feb 2018 18:52 WIB
aseanmaroko
Punya Banyak Kerja Sama, Maroko Ingin jadi Mitra ASEAN
Wakil Menteri Urusan Luar Negeri Maroko Mounia Boucetta di Kementerian Luar Negeri RI (Foto: Dok.Kemenlu RI).

Jakarta: Maroko menyampaikan keinginannya untuk bisa bermitra dengan ASEAN. Hal ini disampaikan Wakil Menteri Urusan Luar Negeri Maroko Mounia Boucetta kepada Wamenlu RI A.M Fachir.
 
"Maroko ingin, berminat menjadi partner sektoral ASEAN," ucap Fachir, saat ditemui di kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Selasa 13 Februari 2018.
 
Wamenlu Fachir mengatakan dalam pertemuan tersebut, dia menyampaikan beberapa pemikiran, salah satunya bertemu dan berdiskusi dengan semua negara di ASEAN. Pasalnya menurut dia, harus ada pembicaraan bersama untuk mengidentifikasi sektor yang paling sektoral untuk bekerja sama.
 
Bouccetta juga mengatakan negaranya sudah bekerja sama dengan lima negara ASEAN. Hal ini menjadi dasar dia ingin bermitra dengan organisasi kawasan Asia Tenggara.
 
"Maroko ingin melakukan kolaborasi hebat dengan berbagai negara yang berbeda di Asia Tenggara. Dan kami mengatakan pada Pak Fachir ingin membentuk sebuah  nilai real yang berimbas pada populasi di negara kami," kata Boucetta.

(Baca: Maroko Dukung Indonesia jadi Anggota Tidak Tetap DK PBB).
 
Boucetta menuturkan ingin bekerja sama dengan ASEAN karena sudah terstruktur komunitas ekonominya. Dia berpikir hal tersebut penting karena melihat beragam potensial yang bisa dikerjakan dengan Maroko.
 
Sementara itu, kerja sama dengan Indonesia, Maroko mengidentifikasi banyak sektor yang bisa menjadi lahan kerja sama untuk perdagangan dan investasi. Bouchetta juga menuturkan ingin mempromosikan perdagangan, terutama dalam beberapa sektor seperti fosfat dan pembangunan dengan kemampuan berbeda.
 
Meski demikian, Wamenlu Fachir menuturkan, perdagangan Indonesia dengan Maroko sedang lesu. Karenanya, dia ingin perjanjian perdagangan dua negara bisa cepat diselesaikan.
 
"Kita minta supaya ada time frame sesingkat mungkin agar perjanjian itu bisa terealisasi. Hal ini akan membantu para pelaku bisnis semakin meningkatkan kinerja mereka," imbuhnya.
 
Indonesia membutuhkan barang-barang dari Maroko, salah satunya fosfat. Fosfat bisa digunakan sebagai kebutuhan pupuk. Sementara itu, nilai perdagangan Indonesia dan Maroko menurun dari USD150 juta menjadi USD110 juta pada 2017.

(FJR)