Korut: Perang Nuklir dapat Terjadi Kapan Saja

Marcheilla Ariesta    •    Rabu, 18 Oct 2017 09:23 WIB
nuklir korea utara
Korut: Perang Nuklir dapat Terjadi Kapan Saja
Korut terus kembangkan kemampuan nuklir dan rudal (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, New York: Wakil Duta Besar Korea Utara (Korut) untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Kim In Ryong memperingatkan bahwa situasi di Semenanjung Korea telah mencapai titik jenuh. Karenanya, kondisi ini bisa memicu perang nuklir kapan saja.
 
Kepada komite pelucutan senjata Majelis Umum PBB, In Ryong menuturkan Korut satu-satunya negara di dunia yang telah mengalami ancaman nuklir besar. Dia menceritakan sejak 1970an, Amerika Serikat (AS) telah mengancam mereka secara langsung. Oleh karena itu Pyongyang, ujar Ryong, memiliki nuklir untuk membela diri.
 
Dia kemudian menunjuk latihan militer berskala besar setiap tahun dengan menggunakan 'aset nuklir' yang dinilai lebih berbahaya dibanding uji coba terang-terangan yang dilakukan Korut. Menurutnya AS berencana melakukan operasi rahasia yang bertujuan untuk menyingkirkan pemimpin tertinggi Korut, Kim Jong-un.
 
"Mereka (AS) berusaha menyingkirkan pemimpin tertinggi kami. Korut yakin AS tengah melakukan operasi rahasia untuk mewujudkannya," seru Ryong di markas besar PBB, New York, seperti dikutip dari Aljazeera, Selasa 17 Oktober 2017.
 
Tahun ini, Pyongyang menyelesaikan program 'kekuatan nuklir negara'. Menurut Ryong, tenaga nuklir penuh sudah rampung dan menjadi sarana pengiriman berbagai jenis nuklir'.
 
"Kami telah menyelesaikan kekuatan nuklir negara yang bisa menjadi tenaga nuklir penuh dan memiliki sarana pengiriman berbagai jenis nuklir, seperti bom.atom, bom hidrogen dan roket balistik antarbenua," katanya.
 
"Seluruh daratan AS berada dalam jangkauan tembak kami dan jika AS berani memasuki wilayah suci kami bahkan satu inci pun tidak akan lolos dari hukuman berat kami di bagian dunia manapun," imbuhnya memperingatkan.
 
Pernyataan Ryong dikeluarkan menyusul meningkatnya ancaman antara Korea Utara dan Amerika Serikat, dan sanksi PBB yang semakin sulit. Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa negaranya membatasi hubungan ekonomi, ilmiah dan lainnya dengan Korea Utara sesuai dengan sanksi PBB, dan Uni Eropa mengumumkan sanksi baru kepada Pyongyang untuk mengembangkan senjata nuklir dan rudal balistik.
 
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson menyebutkan bahwa upaya diplomatik yang bertujuan untuk menyelesaikan krisis Korea Utara akan berlanjut sampai 'bom pertama turun'. Komitmennya terhadap diplomasi datang meski cuitan Presiden AS Donald Trump beberapa minggu lalu menuturkan bahwa utusan utamanya tersebut 'membuang-buang waktu' untuk bernegosiasi dengan Jong-un, yang dengan kasar dia sebut sebagai "Little Rocket Man."
 
Wakil Duta Besar PBB untuk Korea Utara menyebut senjata nuklir dan rudal negaranya 'aset strategis' berharga yang tidak dapat dibalik atau ditukar dengan apapun.
 
"Jika kebijakan bermusuhan dan ancaman nuklir AS benar-benar diberantas, kita tidak akan pernah menempatkan senjata nuklir dan roket balistik kita di meja perundingan dalam situasi apapun," kata Ryong.
 
Dia mengatakan kepada komite pelucutan senjata bahwa Pyongyang juga berharap dunia bebas nuklir.



(FJR)