BDF 10: Demokrasi Harus Dimulai dari Keluarga

Marcheilla Ariesta    •    Kamis, 07 Dec 2017 19:36 WIB
bdf
BDF 10: Demokrasi Harus Dimulai dari Keluarga
Menlu Retno Marsudi menyebutkan bahwa demokrasi berasal dari keluarga (Foto: Marcheilla Ariesta).

Jakarta: Demokrasi harus dimulai dari lingkungan yang paling kecil, yaitu keluarga. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menuturkan keluarga merupakan tempat edukasi.
 
"Saya kira keluarga merupakan tempat awal untuk mengenalkan nilai-nilai demokrasi menjadi sangat penting artinya," ujarnya, dalam pernyataan kepada awak media, di sela Bali Democracy Forum (BDF) ke-10, Tangerang, Kamis, 7 Desember 2017.
 
Menurutnya, respons dunia internasional terhadap inisiatif untuk melanjutkan BDF sangat besar. "Hal ini bisa dilihat dari tingkat partisipan 103 delegasi dari 96 negara plus tujuh organisasi internasional yang saat ini kita ubah polanya lebih interaktif," lanjut dia.
 
Dalam BDF ke-10 ini, ada dua panel diskusi yang dilakukan. Para menteri dan delegasi yang hadir bisa interaktif berdiskusi.
 
Tema BDF tahun ini adalah 'Does the Democracy Deliver?'. Tema ini diambil sebagai refleksi sepuluh tahun BDF berdiri.
 
Menlu Retno berharap BDF bisa menjadi wadah bagi negara-negara demokrasi bertukar pikiran dan saling berbagi.
 
Sementara dua sesi panel diskusi menteri yang terjadi dalam forum ini menggarisbawahi inklusivitas sebagai kunci untuk mewujudkan partisipasi dan kerukunan sosial yang nantinya akan mendorong kemajuan ekonomi, menjaga keamanan dan stabilitas, dan menghilangkan kesenjangan sosial.
 
Pengalaman berbagai negara juga menunjukkan bahwa dinamika demokrasi di mana faktor-faktor keamanan, kesetaraan, dan keadilan sosial saling berinteraksi sangat menentukan kemajuan demokrasi itu sendiri.
 
Tidak hanya itu, juga dilihat bagaimana upaya pemajuan ASEAN melalui Piagam ASEAN dan berbagai mekanisme ASEAN.
 
Semangat dialog dan saling tukar pengalaman yang terus dimajukan oleh pertemuan BDF mampu menghadirkan pembahasan di antara para Menteri dan peserta secara terbuka dan bersahabat. Hal ini terutama dalam perbedaan karakteristik dan juga tantangan yang dihadapi oleh negara. 
 
Semangat ini diapresiasi oleh berbagai negara dan akan digunakan oleh Indonesia sebagai elemen penting dalam pembelajaran demokrasi. 
 
Melalui penyelenggaraan Panel Menteri di tahun ke-10 BDF, Indonesia berupaya membiasakan peserta BDF untuk berdialog mengenai demokrasi dengan nyaman dan secara konstruktif. Interaksi dialogis dengan nyaman dan konstruktif ini adalah juga esensi dari demokrasi.



(FJR)