Aktivis HAM Filipina Tuntut Duterte atas Hilangnya 4.000 Nyawa

Sonya Michaella    •    Rabu, 23 Nov 2016 08:42 WIB
filipina
Aktivis HAM Filipina Tuntut Duterte atas Hilangnya 4.000 Nyawa
Gerakan protes di Filipina menentang perang narkoba Duterte (Foto: Asian Correspondent)

Metrotvnews.com, Manila: Perang narkoba Presiden Filipina, Rodrigo Duterte sejauh ini dilaporkan telah menewaskan sekitar 4.000 orang. Sekelompok aktivis Filipina menuntut pemerintah untuk bertanggung jawab pada setiap nyawa yang hilang.

Kelompok ini menyebut diri mereka Network Against Killing (NAK), yang resmi diluncurkan pada hari ini. Mereka ingin menuntut pemerintah atas dugaan pelanggaran HAM, kebebasan sipil dan supremasi hukum.

"Ini adalah waktunya pembunuhan masal ini berhenti dan membawa pembunuh ke pengadilan," kata kelompok tersebut dalam sebuah penyataan, seperti dilansir Asian Correspondent, Rabu (23/11/2016).

Mereka pun menuntut Duterte untuk bertanggung jawab atas kematian sekitar 4.000 orang di Filipina yang mayoritas terdiri dari pengguna dan pengedar narkoba.

"Kami marah dengan adanya pelanggaran HAM ini. Kami berkomitmen untuk melakukan apa saja yang kami bisa untuk menghentikan pembunuhan dan melindungi HAM," lanjut pernyataan tersebut.

Duterte, yang menjabat sebagai presiden Filipina sejak Juni lalu, secara terbuka mengobarkan perang terhadap perdagangan dan pemakaian narkoba di Filipina.

Menurut laporan terbaru yang dirilis sejumlah media Filipina, perang narkoba Duterte telah merenggut nyawa sekitar 4.897 orang. Dari jumlah ini, 1.896 tewas dalam operasi polisi, sementara 3.001 menjadi korban pembunuhan main hakim sendiri.

"Kegagalan pemerintah Duterte adalah tidak adanya komitmen HAM, namun malah mengobarkan kekejaman," ucap juru bicara NAK, Bapa Amado Picardal.

Duterte dianggap menggunakan metode memerangi kejahatan yang tak lazim. Maka dari itu, ia pun dikecam dunia internasional, seperti PBB dan Uni Eropa.

Sebaliknya, Duterte menuduh dunia internasional pun melakukan hal yang sama, seperti meluncurkan serangan militer untuk membunuh orang-orang tak bersalah di Timur Tengah.



(FJR)

BDF IX Berakhir, Demokrasi Masih Hadapi Banyak Tantangan

BDF IX Berakhir, Demokrasi Masih Hadapi Banyak Tantangan

1 day Ago

Bali Democracy Forum (BDF) IX resmi ditutup. Sejak pertama kali diadakan pada 2008, tingkat keikutsertaan…

BERITA LAINNYA