Menilik Operasi Penyelundupan Narkoba dari Penjara Australia

   •    Selasa, 12 Feb 2019 07:03 WIB
narkobaaustralia
Menilik Operasi Penyelundupan Narkoba dari Penjara Australia
Tersangka penyelundup narkoba Dirichukwu Patrick Nweke. (Foto: ABC).

Sydney: Rekaman percakapan telepon dalam penjara imigrasi Villawood di Kota Sydney mengungkap cara kerja sindikat penipuan dan narkoba. Mereka memanfaatkan korban penipuan berantai untuk menyelundupkan narkoba ke Australia.

Percakapan tersebut disadap oleh pihak berwajib dan didapat oleh Program Four Corners yang menayangkannya di ABC TV, Senin 11 Februari 2019.

Tersangka penyelundup narkoba Dirichukwu Patrick Nweke dalam rekaman itu mengarahkan operasi penyelundupan dengan memanfaatkan pensiunan asal AS untuk melakukan pekerjaannya.

Nweke menggunakan telepon yang diselundupkan ke penjara untuk berkoordinasi dengan para operator di Eropa, Amerika Selatan, Afrika, Asia dan Australia.

Kepolisian New South Wales menuduh jaringan penipuan ini beroperasi di dalam penjara Villawood. Pada Oktober 2018, polisi menangkap tahanan Villawood asal Nigeria lainnya yang diduga menipu korban senilai hampir Rp 30 miliar.


Pihak berwajib berhasil mengetahui rencana sindikat itu menipu Strand ketika mendengarkan pembicaraan telepon Nweke pada 2013. Selama November 2013 hingga April 2014, 10 pembicaraan telepon tersangka di Villawood menunjukkan adanya kontak dengan orang-orang Nigeria di Afrika Selatan, Brasil, Nigeria, India, dan Australia.

"Saya tidak mau ambil risiko. Saya suka membuat orang lain yang ambil risiko," kata Nweke, dikutip dari ABC News.

Dia meminta jaringannya untuk menemukan orang Barat yang akan luput dari perhatian Bea Cukai Australia. Strand menjadi calon korban ideal bagi sindikat ini. Dia pria yang kehilangan pekerjaan, perkawinan berantakan, dan kehilangan uang sekitar Rp 5 miliar dalam penipuan kencan online.

Dalam situasi itu, Strand mendapat email pada November 2013 dari seseorang yang mengaku pejabat Pemerintah Nigeria bernama Bricks Manuel, menawarkan bantuan untuk mendapatkan kembali uangnya.

Setelah berbulan-bulan komunikasi antara Strand dan "Bricks", Nweke menerima kabar bahwa operatornya di Eropa berhasil mendapatkan kurir asal Chicago.

"Mereka yang mengendalikan pria ini berada di Spanyol," kata operator bernama Kelvin itu kepada Nweke.

Kelvin menggambarkan Strand sebagai pria terbaik untuk menjalankan operasi mereka. "Dia memakai alat bantu oksigen, jadi tidak ada yang akan menghentikannya. Kita bahkan akan mengasihani dia ketika melihatnya," ujarnya.

"Apakah orang ini tahu apa yang akan dia lakukan?" tanya Nweke, sebagaimana terdengar dalam rekaman pembicaraan telepon yang disadap.

"Yang dia tahu, dia akan membawa bahan kimia," jawab Kelvin.

"Seharusnya uang tunai yang akan saya dapatkan ini ditandai dengan beberapa jenis pewarna, yang perlu dibersihkan agar saya mendapatkan uang tunai yang bersih," kata Strand kepada ABC.

Namun Polisi Australia sudah menunggu Strand ketika dia mendarat di bandara Sydney dalam penerbangan dari Brasil pada 29 April 2014.

Petugas menemukan 2,5 kilogram kokain murni yang dicampur dengan bahan kimia lain di dalam dua wadah bubuk protein dalam tas yang dibawa Strand. Pengacara Strand, David Barrow, menelusuri ratusan email antara kliennya dengan penipu, serta percakapan telepon dari Villawood.

Dia menemukan metodologi yang digunakan sindikat ini mirip perusahaan yang terintegrasi secara vertikal. “Mereka memperoleh narkoba dari lokasi tertentu, misalnya dari Brasil, tapi bisa pula dari tempat seperti Tiongkok," kata Barrow.

"Mereka memiliki jaringan di sana yang dapat mengirimkan dana untuk membayar narkoba tersebut," katanya.

Selain itu, sindikat ini juga mencari kurir yang gampang tertipu seperti Strand yang berkulit putih, 'terhormat', yang tidak akan menarik perhatian ketika melewati perbatasan internasional.

Strand telah diputus tidak bersalah atas upaya penyelundupan narkoba oleh Pengadilan Distrik NSW. Sementara Nweke dinyatakan bersalah dalam kasus ini akan divonis.


Maria Exposto divonis hukuman mati di Malaysia. (Foto: ABC).

Banyak korban penipuan yang terpikat dalam penyelundupan narkoba kini mendekam dalam penjara di berbagai negara. Termasuk seorang wanita asal Sydney, Maria Exposto, yang dijatuhi hukuman mati di Malaysia.

Exposto ditangkap di Bandara Kuala Lumpur saat dalam perjalanan ke Australia pada 2014. Dia kedapatan membawa 1,1 kg metamfetamin yang dijahit ke lapisan ransel yang diberikan padanya di Shanghai.

Perempuan berusia 55 tahun yang juga mantan pekerja anti perdagangan manusia di Timor Leste, mengaku secara sukarela menyerahkan ransel itu untuk diperiksa petugas Bea Cukai.

"Saya tidak tahu apa-apa tentang narkoba itu. Saya bebas narkoba, membesarkan anak-anakku juga tanpa narkoba," kata Exposto kepada ABC melalui sambungan telepon dari penjara di Malaysia.

ABC memperoleh email dan catatan keuangan Exposto, yang menunjukkan bagaimana dia terpedaya ke Shanghai oleh penipuan kencan online.


(FJR)