Dua Warga Tiongkok Terjebak 100 Hari di Bandara Taiwan

Arpan Rahman    •    Rabu, 16 Jan 2019 15:17 WIB
tiongkoktaiwantiongkok-taiwan
Dua Warga Tiongkok Terjebak 100 Hari di Bandara Taiwan
Liu Xinglian (kanan) dan Yan Kefen berfoto bersama di Bandara Internasional Taoyuan di Taipei, Taiwan, 14 Januari 2019. (Foto: AFP/Yan Kefen/HO)

Taipei: Dua warga Tiongkok terjebak selama lebih dari 100 hari di bandara Taiwan. Liu Xinglian dan Yan Kefen adalah dua orang yang memilih melarikan diri dari Tiongkok karena merasa pemerintah negara mereka otoriter.

Kasus keduanya mirip dengan kisah Rahaf Mohammed al-Qunun, remaja asal Arab Saudi yang melarikan diri dan mendapat suaka di Kanada. Rahaf berhasil menetap di Kanada usai meminta pertolongan kepada komunitas global via media sosial.

Namun dua warga Tiongkok yang juga mencari suaka ini hampir tidak mendapat perhatian atau solidaritas internasional.

Seperti Rahaf, Liu dan Yan telah mengajukan suaka ke Kanada dan menuliskan kisah mereka di medsos. "Di dalam bandara, kami tidak dapat menghirup udara segar, dan tidak ada sinar matahari," tutur Liu kepada kantor berita AFP via sambungan telepon, Rabu 16 Januari 2019.

Untuk bertahan hidup, kedua pria itu memakan makanan kotak yang disediakan sejumlah maskapai. "Makanan seperti itu kurang sehat, kan?" sebut Liu.

Baca: Rahaf al-Qunun Mewujudkan Perjuangan Perempuan Saudi

Liu dan Yan adalah 'sandera' dari status tak biasa dari Taiwan dan kebijakan domestiknya. Status kenegaraan Taiwan tidak diakui sebagian besar negara di dunia, dan tidak ada perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa di sana. Ini artinya, Agensi Pengungsian PBB atau UNHCR tidak dapat beroperasi di Taiwan.

Meski pemerintah Taiwan saat ini didirikan sejumlah orang yang melarikan diri dari perang sipil Tiongkok, Taipei tidak memiliki aturan untuk melindungi pengungsi.

Presiden Taiwan Tsai Ing-wen -- yang secara prinsip menentang Tiongkok dan mendorong penegakan hak asasi manusia -- sejauh ini belum melakukan tindakan apapun untuk menerima atau mendeportasi Liu serta Yan.

Karena tidak ada tindakan apapun, Liu dan Yan terjebak. Mereka tidak bisa masuk ke Taiwan dan juga dilarang meninggalkan area transit bandara.

"Saya tidak tahu harus berapa lama lagi tinggal di bandara ini," kata Yan, yang bersama Liu juga sempat berada di Thailand selama beberapa waktu, persis seperti kisah Rahaf al-Qunun.

"Saya hanya berharap dapat meninggalkan (bandara) sebelum Tahun Baru Imlek. Tapi jika tidak bisa, itu artinya memang tidak bisa. Saya tidak bisa berbuat apa-apa lagi," tambah dia.


(WIL)