PM Pakistan Tuding Dunia Abaikan Ketegangan di Asia Selatan

Arpan Rahman    •    Kamis, 22 Sep 2016 19:09 WIB
konflik india-pakistan
PM Pakistan Tuding Dunia Abaikan Ketegangan di Asia Selatan
PM Pakistan Nawaz Sharif berbicara di PBB (Foto: Reuters)

Metrotvnews.com, New York: Perdana Menteri Pakistan Nawaz Sharif, menuding India membuat situasi yang tidak dapat menerima dialog. Sharif juga berkata, dunia mengabaikan meningkatnya ketegangan di Asia Selatan yang mengandung risiko.
 
"Pakistan tidak bisa mengabaikan India yang belum pernah terjadi sebelumnya membangun persenjataan (nuklir) dan akan mengambil langkah-langkah apa saja yang diperlukan untuk melakukan pencegahan yang masuk akal," Sharif mengatakan dalam sidang tahunan Majelis Umum PBB, di New York, seperti dikutip Reuters, Kamis (22/9/2016). 
 
India menuduh Pakistan berada di balik serangan mematikan di sebuah pangkalan militer di wilayah Kashmir yang disengketakan pada Minggu 18 September di mana 18 tentara tewas. Pihak India menyatakan, karena peristiwa itu mereka memiliki hak untuk membalas kapan pun dan di mana saja.
 
Pakistan telah menyangkal tuduhan tersebut dan menuding India hanya menimpakan kesalahan sebelum kejadian itu diselidiki. Sharif mengatakan, Pakistan menghendaki perdamaian dengan India dan telah berulang kali menawarkan dialog.
 
"Tapi India telah memberi prasyarat yang tidak dapat diterima untuk terlibat dalam dialog," imbuhnya.
 
"Beberapa pembicaraan diperlukan dalam kepentingan kedua negara. Dialog sangat penting untuk menyelesaikan perbedaan-perbedaan kita, terutama sengketa Jammu dan Kashmir, dan untuk menghindari bahaya eskalasi apapun," ujar Sharif.


PM Nawaz Sharif di PBB (Foto: Reuters)
 
India sejak lama menuduh Pakistan memainkan peran dalam pemberontakan panjang 27 tahun di Jammu dan Kashmir, satu-satunya wilayah yang berpenduduk mayoritas Muslim. Pakistan membantah telah mengutus pejuang ke Kashmir, India.
 
India mengatakan pihaknya hanya akan membahas isu-isu yang berkaitan dengan terorisme, sedangkan Pakistan menginginkan agenda yang lebih luas, di antaranya membahas masalah Kashmir.
 
Wilayah Kashmir, yang terbagi di antara India dan Pakistan sejak 1947, merupakan pusat kecurigaan antarkedua negara bertetangga selama tujuh dekade terakhir. Dua dari tiga perang mereka sejak kemerdekaan dari Inggris telah berkobar di wilayah tersebut.
 
Gerakan kemerdekaan
 
Kashmir bagian India telah berada di bawah pengawasan keamanan ketat menyusul lebih dari dua bulan demonstasi. Protes itu dipicu pembunuhan Burhan Wani pada 8 Juli oleh pasukan keamanan India. Korban adalah komandan muda populer dari kelompok separatis Kashmir Hizbul Mujahidin, yang pemimpinnya berbasis di Pakistan.
 
Sharif memuji Wani sebagai "sebagai simbol terbaru Intifada Kashmir, gerakan populer kebebasan dan perdamaian". Pujian itu memantik tanggapan langsung dari kementerian luar negeri India.
 
Sementara Juru Bicara Kementerian Luar Negeri India, Vikas Swarup di Twitter menyebutkan, PM Sharif di Sidang Majelis Umum pBB memuliakan teroris Hizbul, Burhan Wani, di forum tertinggi PBB. Acara dilanjutkan dengan lampiran terorisme Pak.
 
Sharif mengulangi seruan Pakistan agar PBB dan masyarakat internasional menyelidiki kekejaman itu yang diduga telah dilakukan oleh pasukan India di Kashmir.
 
"Masyarakat internasional mengabaikan bahaya meningkatnya ketegangan di Asia Selatan menghadapi risikonya sendiri," pungkas Sharif.
 
India menolak komentar Sharif dalam sebuah pernyataan kepada Majelis Umum PBB. 
 
"Hal ini ironis ... kita telah melihat hari ini pemberitaan HAM dan dukungan nyata untuk penentuan nasib sendiri (di Kashmir) oleh suatu negara (Pakistan) yang telah memantapkan dirinya sebagai pusat global terorisme," kata Eenam Gambhir, seorang diplomat senior India di PBB.
 
"Serangan Minggu lalu, bagian dari jejak aliran yang berlanjut dari teroris terlatih dan dipersenjatai oleh tetangga kami dan bertugas untuk melakukan serangan di India," tegasnya.
 
"Apa yang kita lihat di Pakistan ... adalah negara teroris di mana kanalisasi miliaran dolar, banyak yang dialihkan dari bantuan internasional, untuk melatih, mendanai dan mendukung kelompok-kelompok teroris sebagai duta militan melawan tetangga," ungkap Gambhir.

(FJR)

Clinton Dianggap Berdebat dengan Seorang yang Bodoh
Debat Capres AS 2016

Clinton Dianggap Berdebat dengan Seorang yang Bodoh

6 minutes Ago

Keriuhan ketika debat berlangsung juga terjadi di sebuah bar di Manhattan yang menayangkan langsung…

BERITA LAINNYA