Ratusan Orang Tolak Kedatangan Kofi Annan di Myanmar

Whisnu Mardiansyah    •    Rabu, 07 Sep 2016 03:01 WIB
konflik myanmar
Ratusan Orang Tolak Kedatangan Kofi Annan di Myanmar
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama mantan Sekjen PBB Kofi Anan. (Foto: Antara/Widodo S. Jusuf).

Metrotvnews.com, Rakhine: Mantan Sekjen Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), Kofi Annan, mendapatkan sambutan tak menyenangkan oleh umat Budha di Rakhine, Myanmar. Kedatangannya ke Myanmar sendiri untuk menginvestigasi konflik keagamaan yang telah mengusir puluhan ribu minoritas muslim Rohingya.

Annan dipercaya oleh Aung San Suu Kyi, pemimpin baru Pemerintahan Myanmar. Ia diberi tugas untuk menemukan cara dan solusi memulihkan wilayah-wilayah yang tercerai-berai akibat konflik.

Seperti dilansir Aljazeera, ratusan orang sudah menunggu di Bandara Sittwe sejak Selasa pagi untuk menolak kedatangan Annan. Beberapa spanduk berisikan penolakan 'Katakan tidak pada orang asing mencampuri masalah di Rakhine' dibentangkan sebelum akhirnya konvoi rombongan meninggalkan bandara.

Annan berjanji untuk tidak mendukung pihak mana pun dalam menyelesaikan konflik ini. Diharapkan ia dapat menemui para pimimpin Rakhine dan mengunjungi kamp pengungsian minoritas muslim Rohingya yang hidup dalam kemiskinan dan kesengsaraan. 

Namun, Partai Nasonal Arakan sebagai partai politik terbesar di Rakhine telah menyatakan penolakan untuk menemui Annan. Partai yang beranggotakan satu juta orang ini sebagian besar menolak pemerintah memberi kewarganegaraan dan mengakui muslim Rohingya sebagai etnis minoritas resmi di Myanmar.

Kondisi kehidupan minoritas muslim Rohingya sangat mengenaskan. Mereka tidak diberikan kebebasan bergerak. Hal inilah yang membuat puluhan ribu minoritas Rohingya melarikan diri dan mengungsi melalui perjalanan laut berbahaya menuju Malaysia.

Pekan lalu, Sekjen PBB Ban Ki-Moon menyerukan Myanmar untuk memberikan kewarganegaraan kepada umat muslim Rohingya dan menghormati hak hidup mereka. Namun, isu ini masih dianggap sensitif oleh umat Budha lokal di Myanmar.


(HUS)