Wawancara Khusus Mantan PM Malaysia

Rencana Mahathir Mohamad Singkirkan Najib Razak

Sonya Michaella    •    Kamis, 08 Feb 2018 07:28 WIB
malaysiapolitik malaysia
Rencana Mahathir Mohamad Singkirkan Najib Razak
Mantan PM Malaysia, Mahathir Mohamad bersikeras untuk menjatuhkan Najib Razak. (Foto: Medcom.id)

Kuala Lumpur: Mantan Perdana Menteri Malaysia, Dr. Mahathir Mohamad, mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menyingkirkan Perdana Menteri Najib Razak.

Berpaling dari Partai United Malays National Organization (UMNO) dan bersatu kembali dengan musuhnya, Anwar Ibrahim, Mahathir bersikeras ingin menggulingkan Najib dari kursi PM.

Berikut penjelasan Tun M, sapaan akrab Mahathir, kepada Medcom.id, terkait keputusannya untuk keluar dari UMNO dan bersatu dengan kubu oposisi.

Apa yang membuat Tun M akhirnya memutuskan untuk keluar dari UMNO?
Saya mendapati kepemimpinan pemerintah dan UMNO ini sudah tidak seperti dulu. Pegangannya sudah tidak ke demokrasi tapi ke otokrasi. Rakyat tidak bisa menentang, ada kontrol kepada media, dan ada tindakan yang bertentangan dengan Undang-Undang serta tidak ada respek dengan hukum. Malaysia kehilangan uang dan kita dapat PM Najib memiliki uang yang banyak di rekening pribadinya. Saya tahu pemerintahan sekarang tidak disukai oleh rakyat. Perlu ditukar dengan pemerintahan baru.

Bagaimana kondisi politik dan ekonomi Malaysia di bawah kepempinan PM Najib Razak?
Politik sangat tidak baik. Banyak sekali masalah, terutama di partai lawan. Lawan disekat. Ada yang membuat berita soal kerajaan jelek, ditangkap. Dulu tidak ada seperti itu. Sekarang rakyat tidak boleh bersuara. Kita semua merasa tertekan dan tidak senang. Walaupun ekonomi tumbuh pesat, tetapi rakyat tidak mendapatkan nikmat itu. Pengangguran tinggi. Lulusan universitas sulit mendapatkan pekerjaan. Ini keadaan kami sekarang dan rakyat meminta perubahan.

Tun M akan maju lagi di pemilihan PM. Apa yang membuat Anda ingin menjadi PM kembali?
Sebenarnya saya tak ingin masuk ke politik lagi. Namun, setelah saya lepas jabatan, banyak yang menemui saya dan memberitahu bahwa pemerintah ini sudah menyeleweng. Mereka minta saya berbuat sesuatu, dan, ya, akhirnya saya meninggalkan UMNO.

Banyak skandal yang terjadi yang berkaitan dengan uang dan utang. Saya tidak boleh lagi ada di partai itu. Saya keluar supaya saya bisa berbuat sesuatu dan menyingkirkan PM Najib. Partai yang dulu saya lawan kini meminta saya untuk menurunkan PM Najib. Saya dulu memang musuh mereka, tetapi kami sekarang bersatu untuk melawan PM.

Ada tanggapan dari lawan-lawan Tun M dulu ketika Tun memutuskan untuk bersatu dengan oposisi?
Mereka mengakui memang pemerintahan saya dulu juga tidak sempurna. Tetapi masalah yang ditimbulkan PM Najib ini sangat besar dan ia perlu disingkirkan. Jadi, kami lupakan masalah lalu dan bersatu untuk jatuhkan PM Najib. Mereka sanggup dan memilih saya untuk memimpin. 

Berada di kubu oposisi, apa yang Tun M tawarkan untuk membuat Malaysia lebih baik dari sekarang?
Jika kami menang, kami bisa bangun Malaysia seperti dulu. Kami ada program untuk mengembalikan Malaysia dengan landasan yang lama dan sistem pemerintahan yang rakyat suka. Dan mungkin ada peraturan jabatan PM hanya boleh dua periode, tidak lebih dari itu. 

Dan kami ingin adanya keseimbangan dari legislatif, subjektif dan yudisial. Kami yakin bahwa kami bisa mengobati penyakit yang dibawa oleh PM Najib. Mereka berpendapat bahwa saya berpengalaman, jadi saya bisa membantu pemulihan negara ini. 

Apa harapan Tun M untuk pemilihan PM tahun ini?
Harapan saya tentu kami bisa menang. Tapi saya khawatir bahwa PM Najib menghalalkan segala cara untuk menggagalkan kami dengan uang. Dia bisa menyuap pemilih, media, atau apapun itu untuk mendulang suara yang banyak dan menggagalkan lawan. 

Dulu Tun M mendukung PM Najib, sebenarnya PM Najib ini sosok yang seperti apa?
Saya dapati perlakuannya tidak baik untuk negara. Ia pernah membangun serikat 1MDB yang menghabiskan miliaran ringgit, tetapi sekarang serikat ini sudah tidak ada. Lalu dia utang lagi dan utang lagi sampai menumpuk. Ada pula RM55 miliar untuk membangun jalur kereta api di pantai timur, padahal saya tahu persis bahwa di sana itu tidak bisa dibangun jalur kereta api. Dia juga banyak menjual tanah untuk asing, jadi mereka datang ke Malaysia dan menyingkirkan warga kita sendiri. 

Bergabung dengan oposisi, bagaimana hubungan Tun M dengan Anwar Ibrahim?
Ya, dulu memang kami bermusuhan. Dulu saya pecat dia dari Wakil PM dan dia membangun partai oposisi yang melawan saya. Kami punya masa lalu yang buruk, tetapi tidak sebanding apa yang dilakukan Najib. Kami bersatu untuk utamakan penyingkiran Najib. Anwar juga sokong pencalonan saya menjadi PM. Kali ini dia terima saya untuk menjadi kandidat PM dan bekerja sama untuk rakyat. 

Tanggapan Anwar ketika Tun M mengajak rujuk?
Kami pernah bertemu di Mahkamah dan kami bersalaman. Perkara lama itu kami tidak sebut sedikitpun. Sebaliknya, kami berusaha untuk menyingkirkan PM Najib. Nanti selepas dia dibebaskan dan dia layak jadi PM, boleh pilih Anwar Ibrahim. 

Saya sempat berbincang dengan beberapa warga Malaysia dan mereka masih berharap Tun M menjadi PM. Apa tanggapan Tun M?
Mereka kenal saya. Semasa saya jadi PM memang Malaysia berubah dan maju. Mungkin mereka merasakan saat itu dan mereka mendapat kemudahan saat saya menjabat. Ramai beasiswa untuk belajat dan ramai perniagaan, perdagangan. Jadi, mungkin itu yang membuat saya masih di hati mereka. 

 


(WIL)