Bentrokan Polisi dan Warga Buddha di Rakhine, 7 Orang Tewas

Marcheilla Ariesta    •    Rabu, 17 Jan 2018 16:54 WIB
konflik myanmar
Bentrokan Polisi dan Warga Buddha di Rakhine, 7 Orang Tewas
Pihak keamanan Myanmar terlibat bentrok dengan warga Buddha di Rakhine (Foto: AFP).

Yangon: Tujuh warga Buddha dilaporkan tewas setelah polisi melepaskan tembakan ke arah massa. Warga berusaha merebut sebuah kantor pemerintah daerah di Mrauk U, Rakhine, Myanmar.
 
"Tujuh orang tewas dan 13 lainnya terluka. Lebih dari 20 polisi luka akibat tembakan asal dan batu yang dilempar massa," ucap juru bicara kepolisian setempat, Myo Soe, dilansir dari Channel News Asia, Rabu 17 Januari 2018.
 
Insiden ini terjadi pada Selasa malam waktu setempat. Kala itu, lima ribu warga Buddha berkumpul untuk mengikuti upacara nasional di Mrauk U. Namun, hingga kini masih belum jelas penyebab bentrokan upacara tersebut.
 
Namun, Myo Soe menyalahkan massa karena memulai kekerasan. Mereka dilaporkan bersikeras masuk kantor administrasi demi mengibarkan bendera Negara Bagian Rakhine.
 
"Pasukan keamanan telah menyuruh mereka untuk membubarkan diri dengan melepaskan tembakan peringatan ke udara. Namun, mereka tak berhenti. Ini menyebabkan polisi harus menggunakan peluru asli untuk bertindak," seru Myo.
 
Sebuah rumah sakit di Sittwe menyebutkan pihaknya merawat lima orang dari bentrokan ini. Insiden ini meningkatkan suhu ketegangan di wilayah Rakhine.
 
"Tidak dapat dimaafkan ketika senjata digunakan dalam kejadian ini," tutur pejabat wilayah Mrauk U, U Hla Saw, seraya menyebut tindakan polisi sebagai kejahatan.
 
Saksi mata bernama Nyi Nyi Khant mengatakan, bentrokan ini bisa dicegah jika polisi mengintervensi sebelumnya. "Polisi punya waktu untuk menghentikan massa, sebelum mencapai gedung pemerintah. Mereka bisa saja memblokir jalan tetapi tidak melakukan hal itu," pungkas Khant.
 
Kerusuhan di Mrauk U tidak berhubungan dengan tragedi kemanusiaan yang selama ini menyasar etnis Rohingya.
 
Namun, bentrokan tersebut terjadi di hari yang sama ketika Myanmar dan Bangladesh sepakat memulai proses repatriasi sekitar 650 ribu pengungsi Rohingya dari kamp-kamp pengungsian di perbatasan Bangladesh.
 
Kesepakatan repatriasi pengungsi itu disetujui kedua negara November lalu, sebagai salah satu upaya penyelesaian krisis kemanusiaan di Rakhine yang telah menewaskan 1.000 orang, terutama etnis Rohingya.



(FJR)