Bom Meledak di Pertemuan Politik Afghanistan Tewaskan 9 Orang

   •    Jumat, 17 Nov 2017 10:57 WIB
afghanistan
Bom Meledak di Pertemuan Politik Afghanistan Tewaskan 9 Orang
Ilustrasi: Metrotvnews.com

Kabul, Afghanistan: Serangan bom bunuh diri di ibu kota Afghanistan pada Kamis terjadi di dekat pertemuan pendukung pemimpin kawasan berpengaruh, membunuh setidak-tidaknya sembilan orang dan melukai banyak orang, kata kementerian dalam negeri.

Belum jelas apakah politisi, yakni Atta Mohammad Noor, gubernur provinsi utara Balkh dan pemimpin partai suku Tajik Jamiat-i-Islami, hadir pada pertemuan tersebut pada saat serangan itu terjadi. ISIS mengklaim melakukan serangan tersebut, menurut Amaq, kantor berita resminya. Sementara Taliban membantah terlibat.

"Kami bangga menjadi martir karena negara kita dan hak-hak kita. Pertemuan ini demi negara kita untuk mengangkat suara kita," kata saksi, Jan Mohammad, seperti disitat dari Antara, Jumat 17 November 2017.

Ledakan tersebut merupakan yang terbaru dalam gelombang kekerasan yang telah menewaskan dan melukai ribuan warga sipil di Afghanistan tahun ini. Ketegangan politik meningkat saat para politisi mulai berebut jabatan di depan pemilihan presiden yang diperkirakan pada 2019.

Seorang juru bicara kementerian dalam negeri mengatakan, pembom tersebut mendekati hotel yang mengadakan pertemuan di distrik Khair Khana, Kabul, dengan berjalan kaki. Korban tewas termasuk tujuh polisi dan dua warga
sipil.

Media menunjukkan sejumlah foto, kebanyakan dari saksi, yang tampaknya menunjukkan sekitar belasan badan. Reuters tidak dapat memverifikasi foto-fotonya.

Jamiat-i-Islami yang berbasis di provinsi utara selama bertahun-tahun menjadi lawan utama Taliban, yang menarik dukungan mereka sebagian besar dari komunitas etnis Pashtun yang berbasis di selatan.

Pada Juni, seorang pembom bunuh diri menyerang sebuah pertemuan para pemimpin Jamiat-i-Islami, termasuk Pemimpin Abdullah Abdullah.

Abdullah, yang didukung oleh Noor, dan pemimpin etnis minoritas lainnya, membentuk sebuah pemerintahan koalisi dengan Presiden Ashraf Ghani setelah sebuah pemilihan presiden 2014 yang menjadi sengketa.

Ghani pada Rabu memecat ketua Komisi Independen Pemilihan Umum, yang meningkatkan keraguan mengenai apakah pemilihan anggota parlemen dan dewan, yang dijadwalkan untuk tahun depan, akan berlangsung sesuai dengan rencana.


(FJR)