Korut Anggap Pidato Trump Tak Perlu Dipedulikan

Marcheilla Ariesta    •    Rabu, 08 Nov 2017 17:48 WIB
korea utara
Korut Anggap Pidato Trump Tak Perlu Dipedulikan
Presiden AS Donald Trump berbicara di hadapan Parlemen Korsel (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Pyongyang: Pejabat Korea Utara (Korut) mengaku mengamati dengan saksama kegiatan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, di Korea Selatan (Korsel). Menurutnya, ancaman Trump di hadapan Majelis Nasional Korsel tidak didengar oleh masyarakat Korut.
 
"Kami tidak peduli dengan apa yang diucapkan si gila (Trump), kita sudah cukup mendengarnya," ujar pejabat tak disebutkan namanya tersebut, seperti dilansir dari laman CNN, Rabu, 8 November 2017.
 
 
Dia menambahkan AS mengancam negaranya dengan kapal induk nuklir dan bom atom yang lebih besar. Menurut dia, ancaman tersebut malah lebih meningkatkan ketegangan tak hanya dengan Korut, namun di seluruh wilayah dunia.
 
"Mereka (AS) mengancam kita dengan kapal induk nuklir dan pembom strategis. Mereka menantang kita dengan provokasi paling kecam dan merendahkan, namun kita akan melawan ancaman tersebut dengan memperkuat keadilan menyingkirkan akar penyebab agresi dan perang," seru pejabat itu lagi.
 
Sebelum tiba di Tiongkok, Trump yang melakukan kunjungan ke Korea Selatan (Korsel) mengancam agar Pyongyang tidak menjajal keseriusan AS dalam menjaga perdamaian dunia. Dia mengancam pemimpin Korut, Kim Jong-un jika mereka berani mencobai AS.
 
"Jangan meremehkan kami dan jangan coba-coba dengan kami," ujar Trump kepada Korut, di hadapan Majelis Nasional Seoul, sebelum berangkat ke Beijing.
 
 
Dengan tegas dia menuturkan bahwa Pyongyang adalah neraka bagi warga Korut dan dunia.
 
"Senjata yang Anda buat tidak membuat Anda lebih aman, mereka malah membahayakan rezim Anda. Setiap langkah yang Anda ambil di jalan gelap ini malah lebih meningkatkan bahaya yang akan Anda hadapi," serunya.
 
"Korea Utara bukanlah surga yang dibayangkan kakekmu. Ini adalah neraka yang tidak pantas bagi siapapun!"
 
Namun, dalam pidatonya Trump mengisyaratkan kemungkinan diplomasi untuk menyelesaikan kebuntuan. Namun isyarat berdialog itu hanya bisa dilakukan jika Korut menghentikan untuk mengembangkan program nuklir mereka.



(FJR)