Duterte: Pergilah ke Neraka Obama

Dian Ihsan Siregar    •    Rabu, 05 Oct 2016 04:34 WIB
as-filipina
Duterte: Pergilah ke Neraka Obama
Presiden Filipina Rodrigo Duterte (kanan). AP/Bullit Marquez

Metrotvnews.com, Manila: Presiden Filipina Rodrigo Duterte menyatakan kemarahan kepada Presiden Amerika Serikat Barack Obama. Dia mengungkapkan, AS telah menolak menjual persenjataan ke negaranya.

"Bukannya membantu kita, yang pertama melancarkan kritik justru Departemen Luar Negeri. Jadi, pergi sana ke neraka, Bapak Obama, pergi ke neraka," kata Duterte, Selasa (4/10/2016).

Duterte mengatakan Amerika Serikat tidak mau menjual peluru kendali dan persenjataan lainnya. Tapi, kata dia, Rusia dan Tiongkok telah menyampaikan bisa dengan mudah mempersiapkan persenjataan yang diperlukan Filipina.

"Kalau Anda tidak mau menjual senjata, saya akan berpaling ke Rusia. Saya sudah mengirim beberapa jenderal ke Rusia, dan Rusia mengatakan 'tidak usah khawatir, kami punya semua yang kalian perlukan dan kami akan memberikannya kepada kalian'." jelas dia. "Dan China, mereka mengatakan 'datang saja dan tanda tangan, semuanya akan dikirim'." 

Duterte mengaku sedang menyusun kembali kebijakan luar negerinya karena Amerika Serikat telah mengecewakan Filipina. "Saya akan putus dengan Amerika," tambah dia. Tidak jelas apa yang dimaksudnya dengan "putus".

"Walaupun ini mungkin terdengar kotor bagi Anda, saya memiliki tugas mulia untuk menjaga integritas republik ini dan kesehatan rakyat," ujar Duterte. 

Di Washington, para pejabat AS tidak memedulikan pernyataan Duterte itu. Menurut mereka, komentar-komentar Duterte itu 'bertentangan' dengan hubungan hangat dan pertemanan Filipina-AS yang telah berjalan selama berpuluh-puluh tahun.

Juru bicara Gedung Putih Josh Earnest mengatakan tidak ada komunikasi dari Filipina soal negara itu mengubah hubungan dengan AS. Namun, Earnest tidak ragu mengkritik taktik Duterte dalam perang maut yang dilancarkan pemimpin Filipina itu terhadap obat-obatan terlarang.

"Bahkan pada saat kami menjaga pertemanan kuat (AS-Filipina, red) ini, pemerintah dan (rakyat) Amerika Serikat tidak akan ragu untuk menyuarakan keprihatinan kita terhadap pembunuhan semena-mena," kata Earnest dalam jumpa pers. (Antara)





(OGI)

BDF IX Berakhir, Demokrasi Masih Hadapi Banyak Tantangan

BDF IX Berakhir, Demokrasi Masih Hadapi Banyak Tantangan

22 hours Ago

Bali Democracy Forum (BDF) IX resmi ditutup. Sejak pertama kali diadakan pada 2008, tingkat keikutsertaan…

BERITA LAINNYA