Lima Isu Utama Dibahas dalam Pertemuan JCBC RI-Malaysia

Fajar Nugraha    •    Jumat, 11 Aug 2017 10:33 WIB
indonesia-malaysia
Lima Isu Utama Dibahas dalam Pertemuan JCBC RI-Malaysia
Menlu Retno Marsudi dan Menlu Malaysia Anifah Aman dalam pertemuan ke-15 JCBC antara Indonesia dan Malaysia (Foto: Fajar Nugraha/Metrotvnews.com).

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Luar Negeri Indonesia dan Menlu Malaysia rampung melakukan Pertemuan Komisi Kerja Sama Bilateral ke-15 atau Joint Commission for Bilateral Cooperation (JCBC) di Jakarta.
 
 
Menlu Retno L.P Marsudi membahas berbagai isu bersama Menlu Malaysia Dato Seri Anifah Aman. Menlu Retno menyebutkan beragamnya isu yang dibahas mencerminkan kekayaan hubungan yang dimiliki oleh kedua negara.
 
Beberapa isu utama yang dibahas dalam pertemuan di Gedung Pancasila, Jumat 11 Agustus 2017 antara lain sisi ekonomi, pertahanan keamanan serta isu perbatasan antara kedua negara.
 
"Perdagangan dan investasi, Malaysia merupakan salah satu mitra penting Indonesia. Untuk tahun 2016 misalnya, perdagangan kedua negara hampir mencapai USD 15 miliar. Malaysia juga merupakan 10 investor terbesar di Indonesia, dengan nilai USD1,1 miliar di 2016," ujar Menlu Retno, usai melakukan pertemuan di Gedung Pancasila, Jakarta, Jumat 11 Agustus 2017.
 
Sebagai negara tetangga, Indonesia dan Malaysia juga diwarnai dengan masalah perbatasan. Isu ini pula yang dibahas oleh kedua menlu.
 
"Kita memiliki perbatasan, baik laut maupun darat. Untuk perbatasan maritim, sejak JCBC terakhir kita (kedua negara) di tahun 2015 telah menyelenggarakan sembilan pertemuan. Baik pertemuan pada tingkat special envoy maupun pertemuan tingkat teknis," imbuh Menlu Retno.
 
"Kedua belah pihak juga telah menyepakati Provisional Territorial Sea Boundary (PTSB) di Laut Sulawesi dan Indonesia sudah meminta kepada Malaysia agar PTSB tersebut dapat diresmikan, karena akan memberikan dorongan bagi penyelesaian kemajuan negosiasi selanjutnya," jelas Menlu.


Kedua Menlu turut membahas perlindungan terhadap tenaga kerja (Foto: Fajar Nugraha/Metrotvnews.com)
 
Sementara untuk pembahasan perbatasan darat, Indonesia menyambut bagik penandatanganan memorandum of understanding (MoU) nomor 20 mengenai "Joint Recognition on Survey Indonesia Malaysia International Boundary". Ini adalah dari para pemimpin kedua negara yang melakukan pertemuan dua tahun lalu. Selain itu, kedua menlu juga sepakati batas darat untuk menyelesaikan lima dari masalah batas wilayah untuk sektor Kalimantan Utara dan Sabah serta empat lainnya di Kalimantan Barat dan Sarawak.
 
Isu-isu ketenagakerjaan juga turut dibahas dalam pertemuan ke-15 JCBC ini. "Kami menekankan masalah penempatan dan perlindungan TKI merupakan prioritas dari Pemerintah Indonesia. Kita sepakat untuk meningkatkan perlindungan terhadap tenaga kerja," Menlu menambahkan.
 
"Diharapkan agar penyelesaian pembaharuan MoU on Recuitment and Placement of Indonesia Domestic Worker dapat segera diselesaikan. Pemerintah Indonesia juga mencatat adanya program rehiring (kontrak kembali) dan deportasi secara sukarela bagi para TKI. Indonesia berharap kiranya adanya regulasi yang adil yang dapat diterapkan baik pada pekerja dan majikan," jelasnya.
 
Pertemuan kali ini juga membahas kolaborasi menangkal kampanye hitam dari Eropa terkait crude palm oil (CPO) atau minyak kelapa sawit. Hal ini juga diperkuat dengan kerja sama strategis untuk meningkatkan produksi serta daya saing sawit.
 
Indonesia juga menghargai kebijakan Malaysia memberikan Pusat Komunitas Belajar atau Community Learning Center (CLC) di Malaysia bagi anak-anak pekerja Indonesia. Menlu mengharapkan CLC ini dibuat di luar ladang.
 
Penanganan terhadap nelayan jadi perhatian bagi kedua menlu. Baik Menlu Retno dan Menlu Anifah sepakat untuk finalisasi implementasi panduan mengenai penegakan hukum maritim bagi para nelayan.
 
Rencana pertemuan kedua kepala negara pada November mendatang juga menjadi bahasan. Menlu Anifah Aman menyebutkan Pertemuan Konsultansi Tahunan akan berlangsung di Kuching, Malaysia.

(FJR)