Livestreaming

Menlu Retno Paparkan Tiga Langkah Usulan RI Perangi Terorisme

Fajar Nugraha    •    Kamis, 22 Sep 2016 11:47 WIB
sidang majelis umum pbb 2016
Menlu Retno Paparkan Tiga Langkah Usulan RI Perangi Terorisme
Menlu Retno Marsudi paparkan tiga usulan atasi terorisme (Foto: Dok. Kemenlu RI)

Metrotvnews.com, New York: Kerja sama internasional dalam melawan terorisme menjadi perhatian utama bagi komunitas internasional. Ini adalah pandangan yang dipaparkan Indonesia di pertemuan Global Counter-Terrorism Forum (GCTF).
 
Pertemuan Pleno tingkat Menteri ke-7 GCTF ini diadakan di sela-sela pertemuan pertemuan tingkat tinggi Sidang Majelis Umum PBB ke-71 di New York, Amerika Serikat (AS).
 
"Tantangan dunia dalam menghadapi ancaman dari terorisme tidak semakin kecil, namun justru semakin besar," ujar Menlu Retno Marsudi di New York, Rabu (21/9/2016) atau Kamis 22 September waktu Indonesia.
 
Dihadapan forum ini Menlu Retno menegaskan bahwa kerja sama internasional menjadi suatu keharusan dalam menghadapi tantangan ekstremisme dan terorisme yang semakin besar. Sulit bagi satu negara untuk dapat mengatasi ancaman dari terorisme yang memiliki jaringan lintas batas dan akses kepada teknologi komunikasi yang semakin maju. 
 
"Tidak ada pilihan bagi komunitas internasional selain untuk bekerja sama lebih erat dalam melawan terorisme," tegas Menlu Retno, seperti dikutip dari keterangan tertulis Kemenlu RI, yang diterima Metrotvnews.com, Kamis (22/9/2016).
 
Menurut mantan Dubes RI untuk Belanda itu, masalah dasar yang dihadapi dalam konteks ekstrimisme dan terorisme, terkait dengan pola pikir dan ideologi. 
 
"Ekstrimisme dan terorisme tidak terkait dengan masalah agama, nationalitas, peradaban atau etnis. Tantangan dan tugas kita semua adalah untuk dapat merubah pola pikir dan idiologi para ekstremis," pungkasnya. 
 
Dalam upaya memerangi ekstrimisme dan terorisme, Indonesia mengusulkan tiga langkah yang perlu mendapat perhatian untuk memperkuat strategi selama ini. Pertama, perlunya langkah untuk memperkuat counter narative melalui media sosial dalam melawan ekstrimisme dan terorisme.

Saat ini penyebaran paham dan ideologi ekstrimisme dilakukan secara cepat melalui media sosial. Oleh karena itu perlu adanya kerja sama internasional untuk melakukan counter narative
 
"Tidak ada pilihan bagi kita selain bekerja sama untuk melawan para ekstremisme di media sosial," imbuh Menlu.  
 
Kedua, perlunya kerja sama internasional untuk memulai suatu gerakan global guna mendorong moderasi dan toleransi. Dalam hal ini masyarakat internasional harus mendorong para moderat untuk angkat bicara. Indonesia telah banyak melakukan berbagai langkah untuk terus mendorong budaya moderasi dan toleransi. 
 
"Masyarakat internasional dapat bekerja sama untuk mendorong moderasi dan toleransi baik di tingkat nasional maupun di tingkat internasional," ungkapnya.
 
Ketiga, peran perempuan harus diberdayakan dalam mendorong budaya moderat dan toleransi. Sebagai ibu, perempuan memiliki peran kunci dalam menanamkan budaya dan ideologi yang moderat dan toleran pada anak yang nantinya akan membentuk masyarakat kita. "Perempuan harus diberdayakan dan diikutsertakan dalam upaya mendorong budaya masyarakat yang moderat dan toleran," jelas Menlu RI perempuan pertama. 
Menlu Retno Marsudi di forum GCTF (Foto: Dok.Kemenlu RI)
 
 
GCTF adalah forum internasional yang beranggotakan 29 negara serta Uni Eropa dengan tujuan utama untuk mengurangi kerentanan terhadap ancaman terorisme melalui upaya pencegahan, memerangi dan pengusutan  aksi terorisme serta memberantas upaya rekrutmen teroris. Forum ini menghadirkan para ahli dan praktisi dari berbagai negara untuk berbagi pengetahuan dan keahlian untuk mengembangkan strategi untuk menghadapi ancaman terorisme yang terus berevolusi. 
 
Saat ini, Indonesia merupakan ketua bersama (co-Chair) dari kelompok kerja GCTF Detention and Reintegration bersama Australia. Bersama Australia, Indonesia telah menyelenggarakan dua workshop skala regional di Asia dan Afrika. 
 
Pertama, Regional Workshop on Rehabilitation and Reintegration Programming for Terrorist Detainees, di  Nairobi, Kenya, Oktober 2015. Kedua, Workshop on developing Effective Intake, Risk Assessment, and Monitoring Tools and Strategies for Incarcerated Terrorist Offenders di Manila July 2016.
 
Selain itu pada Mei 2016 di Cilacap, Indonesia juga telah mengadakan pelatihan untuk sipir di penjara dengan pengamanan maksimum serta bagaimana menghadapi pelaku kejahatan ekstrimisme.



(FJR)

Debat Perdana Capres AS Pecahkan Rekor Jumlah Penonton
Debat Capres AS 2016

Debat Perdana Capres AS Pecahkan Rekor Jumlah Penonton

4 hours Ago

Jumlah tersebut mengalahkan rekor debat capres Ronald Reagan dengan Jimmy Carter pada 1980. 

BERITA LAINNYA