Daftar Target 'Warga Bangladesh Ilegal' Picu Ketegangan di India

Arpan Rahman    •    Sabtu, 30 Dec 2017 14:10 WIB
india
Daftar Target 'Warga Bangladesh Ilegal' Picu Ketegangan di India
Pasukan India dikerahkan ke wilayah Assam menyusul keluarnya daftar warga negara ilegal (Foto: AFP).

Assam: India memobilisasi sekitar 60.000 tentara polisi dan paramiliter ke Assam demi mengantisipasi kerusuhan menyusul terbitnya daftar warga negara ilegal. Daftar itu akan digunakan untuk mendeteksi dan mendeportasi imigran ilegal -- terutama Muslim -- asal negara tetangga Bangladesh.
 
Perdana Menteri Narendra Modi Bharatiya Janata (BJP) mengambil alih kekuasaan di negara bagian Assam untuk pertama kalinya tahun lalu. Ia berjanji menindak penduduk Muslim ilegal yang mencaplok pekerjaan dari penduduk Hindu setempat.
 
Pada Minggu, pemerintah negara bagian akan merilis draf National Register of Citizens (NRC) setelah dilakukan sensus pertama kalinya sejak 1951.
 
Operasi tersebut dapat menyebabkan ketegangan komunal di Assam, yang memiliki persentase Muslim tertinggi kedua di India. Pemimpin Muslim menyebut NRC sebagai alat untuk membuat mereka tanpa kewarganegaraan, disamakan dengan minoritas Rohingya yang teraniaya di Myanmar.
 
"NRC sedang dilakukan buat mengidentifikasi penduduk Bangladesh ilegal yang tinggal di Assam," Himanta Biswa Sarma, menteri keuangan Assam yang juga bertanggung jawab atas daftar kewarganegaraan tersebut, mengatakan kepada Reuters. 
 
"Semua yang tidak disebutkan namanya di NRC harus dideportasi. Kami tidak mau mengambil risiko dan karenanya semua tindakan pengamanan telah dilakukan," bubuhnya.
 
Sarma mengatakan bahwa orang-orang Hindu Bangladesh yang terancam penganiayaan akan diberikan perlindungan di India, sesuai dengan kebijakan federal.
 
Seorang juru bicara Kementerian Dalam Negeri di New Delhi menolak berkomentar. Menteri Dalam Negeri Bangladesh Asaduzzaman Khan berkata, Dhaka tidak mengetahui rencana mendeportasi penduduk.
 
"Kami tidak menerima informasi apapun dari pemerintah India, baik formal maupun informal," katanya seperti dikutip Dhaka Tribune, Jumat 29 Desember 2017.
 
Diperkirakan lebih dari 2 juta Muslim di Assam yang terlacak akar mereka ke Bangladesh.
 
Buat diakui sebagai warga negara India, mereka harus bisa memiliki dokumen yang membuktikan bahwa mereka atau keluarga mereka tinggal di negara tersebut sebelum 24 Maret 1971.
 
"Kakek dan nenek saya semua lahir di India tapi hari ini kami merasa sulit mendapatkan dokumen demi mendukung klaim kami bahwa kami orang India," kata Asiful Rahman, guru di sebuah seminari Islam di distrik mayoritas Muslim di Assam.
 
"Orang tua dan kakek-nenek kami buta huruf dan tidak menyimpan dokumen hukum apapun, dan untuk itu kami menghadapi ujian demi membuktikan kewarganegaraan India kami sekarang," sambungnya.
 
Puluhan ribu orang melarikan diri ke India dari Bangladesh selama perang kemerdekaannya dari Pakistan pada awal 1970an. Kebanyakan mereka menetap di Assam, di India timur laut, dan negara tetangga Bengal Barat, di mana muncul tuntutan serupa untuk mengirim kembali imigran Muslim ilegal.



(FJR)