Warga AS di Filipina Khawatir Diusir Duterte

Arpan Rahman    •    Selasa, 18 Oct 2016 18:24 WIB
filipina
Warga AS di Filipina Khawatir Diusir Duterte
Richard Haulet, veteran perang AS yang membuka bisnis di Filipina. (Foto: Reuters)

Metrotvnews.com, Manila: Pada sebuah bar, di Teluk Subic, Filipina, yang dimiliki seorang veteran militer Amerika Serikat (AS), topik utama pembicaraan bukanlah pemilu AS mendatang meskipun mug kopi, foto-foto, dan topi bergambar Donald Trump dipajang di sana.

Pokok pembicaraan adalah ketegangan Presiden Filipina Rodrigo Duterte dengan Washington dan kemesraannya dengan Tiongkok. Itu yang mengkhawatirkan sebagian besar pelanggan bar Amerika ini, yang bermukim di sekitar pangkalan besar Teluk Subic, bekas instalasi angkatan laut AS.

"Ketakutan terbesar adalah bahwa suatu hari dia akan bangkit dan berkata 'semua orang Amerika, keluar dari sini' dan kami harus meninggalkan orang-orang yang kami cintai," kata Jack Walker, seorang pensiunan Marinir berpangkat sersan, yang telah tinggal di Olongapo, kota dekat pangkalan itu, selama lima tahun.

Selama lebih dari satu abad, Filipina dan AS telah berbagi sejarah kolonialisme, perang, pemberontakan, bantuan, dan hubungan ekonomi mendalam. 

Menurut South China Morning Post, Selasa (18/10/2016), hanya dalam tiga bulan kepresidenan Duterte, hubungan itu bisa berubah. 

Dalam serangkaian pernyataan, Duterte telah menghina Presiden AS Barack Obama dan duta besar AS di Manila yang menanyakan perang terhadap narkoba, lantaran menyebabkan kematian lebih dari 2.000 tersangka pengguna dan pengedar narkoba. Dia mengatai Obama agar "pergi ke neraka" dan menyinggung soal putus hubungan dengan Washington.

Kemudian, beberapa pekan kemudian, Duterte mengatakan Filipina akan mempertahankan perjanjian pertahanan yang sudah ada saat ini dan menjaga aliansi militernya.


Presiden Filipina Rodrigo Duterte. (Foto: AFP)

"Komentar-komentar Duterte tersebut membuat orang Amerika khawatir, menimbulkan kegelisahan bisnis serta masa depan mereka di Filipina," kata Ebb Hinchliffe, direktur eksekutif Kamar Dagang Amerika (ACC).

"Setiap kali ia membuka mulutnya dan mengatakan sesuatu yang negatif tentang Amerika, yang menyakiti saya secara pribadi, dan dari sudut pandang bisnis, itu tidak membantu," tambahnya.

Hinchliffe mengatakan, tiga delegasi perdagangan yang mewakili teknologi Amerika, jasa keuangan, dan perusahaan manufaktur telah membatalkan perjalanan ke Filipina dalam beberapa pekan terakhir.

AS secara efektif memerintah Filipina sejak 1898, setelah merebut negara itu dari Spanyol, sampai akhirnya mengakui kemerdekaan pada 1946.

Menurut Kementerian Luar Negeri AS, sekitar empat juta orang keturunan Filipina hidup di AS, salah satu minoritas terbesar di Negeri Paman Sam. Berkisar 220.000 orang AS, banyak dari mereka veteran militer, tinggal di Filipina. 

Berdasarkan studi Pew Research Centre tahun lalu, Filipina adalah negara yang paling pro AS di dunia.

Kendati berbagi sejarah, namun Filipina memiliki gerakan nasionalis kuat, yang telah mempertanyakan aliansinya dengan AS. Pada 1991, pemerintah meminta Washington mengosongkan fasilitas angkatan laut Teluk Subic Bay dan sekitar pangkalan udara Clark.

Tapi saat ketegangan meningkat dengan Tiongkok atas sengketa teritorial di Laut China Selatan, Filipina menandatangani Perjanjian Peningkatan Kerjasama Pertahanan (EDCA) dengan AS pada 2014, yang memberikan Washington keleluasaan militer melalui rotasi kapal perang dan pesawat tempur demi kemanusiaan dan operasi keamanan maritim. 



(WIL)

BDF IX Berakhir, Demokrasi Masih Hadapi Banyak Tantangan

BDF IX Berakhir, Demokrasi Masih Hadapi Banyak Tantangan

22 hours Ago

Bali Democracy Forum (BDF) IX resmi ditutup. Sejak pertama kali diadakan pada 2008, tingkat keikutsertaan…

BERITA LAINNYA