Mahathir Minta Indonesia Bela Kelapa Sawit Bersama

Marcheilla Ariesta    •    Jumat, 29 Jun 2018 15:22 WIB
presiden jokowiindonesia-malaysiamahathir mohamad
Mahathir Minta Indonesia Bela Kelapa Sawit Bersama
kelapa sawit tengah diterpa kampanye negatif dari Uni Eropa. (Foto:Antara/Puspa Perwitasari)

Bogor: Indonesia dan Malaysia merupakan dua negara produsen kelapa sawit terbesar pertama dan kedua dunia. Namun, kelapa sawit tengah mendapat kampanye negatif dari Uni Eropa.

Perdana Menteri (PM) Malaysia Mahathir Mohamad mengajak Indonesia bersama memerangi kampanye negatif tersebut.

"Kita hadapi tantangan yang sama, utamanya ekspor kelapa sawit yang di ancam Eropa dan kita perlu bersama melawan kampanye mereka," ucap Mahathir di Istana Bogor, Jawa Barat, Jumat 29 Juni 2018.

Dia menuturkan apa yang disampaikan Uni Eropa tidak benar sama sekali. Organisasi Benua Biru menuding kelapa sawit merusak alam karena ditanam dengan cara menebang hutan.

"Kita dihadapkan dengan permasalahan lebih luas dan mereka menuding bahwa kelapa sawit berdampak buruk bagi iklim, padahal sebaliknya, mereka tahu bahwa kelapa sawit ini bersaing dengan minyak mereka yang terbuat dari kacang-kacangan," imbuh Mahathir.

Menurut Mahathir, sebenarnya Eropa menghadapi permasalahan keuangan karena tidak bisa bersaing dengan kelapa sawit. Namun mereka menuding kelapa sawit sebagai penyebab kerusakan lingkungan.

Mahathir tiba di Istana Kepresidenan, Bogor, Jawa Barat. Mahathir yang tiba bersama sang istri, Siti Hasmah, langsung disambut Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ibu Negara Iriana Widodo. Mahathir tiba sekitar pukul 10.00 WIB.

Usai disambut secara kenegaraan, Mahathir kemudian berkeliling untuk bersalaman dengan sejumlah anak-anak yang turut menyambut kedatangannya. Sebelum masuk ke dalam ruangan Istana Negara, Mahathir pun sempat mendatangi menteri Kabinet Kerja yang sudah berjejer menanti Mahathir.

Hadir di antaranya Menteri Politik Hukum dan HAM Wiranto, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri, Menteri PDT Eko Sandjodjo, dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong.





(WAH)