Kenang Korban Kudeta Turki, Dubes Gurbuz Teteskan Air Mata

Willy Haryono    •    Jumat, 14 Jul 2017 20:10 WIB
kudeta turki
Kenang Korban Kudeta Turki, Dubes Gurbuz Teteskan Air Mata
Dubes Turki untuk Indonesia Sander Gurbuz dalam konferensi pers di kediamannya di Jakarta, Jumat 14 Juli 2017. (Foto: MTVN)

Metrotvnews.com, Jakarta: Hampir satu tahun berlalu sejak percobaan kudeta terjadi di Turki pada 15 Juli 2016. 

Ketika itu, sejumlah elemen militer Turki mencoba menggulingkan pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan. Turki menuduh kudeta ini digerakkan tokoh Fethullah Gulen dan organisasi terorisnya: FETO.

Percobaan kudeta menewaskan 67 personel keamanan pro pemerintah, yang terdiri dari 62 polisi dan lima tentara. Sementara korban warga sipil mencapai 179 hingga 250. Sekitar 24 hingga 104 pelaku kudeta tewas dalam percobaan tersebut. 

"Sampai saat ini, kami masih berusaha menyembuhkan trauma. Itu bukan kudeta biasa," ucap Duta Besar Turki untuk Indonesia Sander Gurbuz di kediamannya di Jakarta, Jumat 14 Juli 2017.

"Ketika itu, banyak pesawat jet tempur terbang di Ankara dan Istanbul. Kami sudah merasa ada yang tidak beres," lanjut dia. 

Dubes Gurbuz mengaku terkejut karena sejumlah elemen militer tega menggunakan peralatan tempur untuk menembaki warga sipil. Para pelaku kudeta juga membunuh tentara yang menolak ikut dalam pergerakan. 

Ia menambahkan, para pelaku kudeta juga menggempur gedung parlemen serta berusaha mencari dan membunuh Erdogan. 


Pemutaran film dokumenter pendek mengenai percobaan kudeta di Turki. (Foto: MTVN)

Percobaan kudeta akhirnya berakhir karena banyak warga turun ke jalan untuk menghadapi para pelaku. Beberapa dari warga bahkan berani berhadapan langsung dengan tank baja. 

"Kami bangga telah melewati ujian ini. Semua elemen bangsa melawan kudeta ini. Warga kami memperlihatkan solidaritas luar biasa," sebut Dubes Gurbuz. 

Setelah kudeta berakhir, Erdogan memerintahkan investigasi menyeluruh. Sebanyak 78 kasus terkait kudeta digelar di persidangan di 23 provinsi Turki. Para jaksa mengumpulkan banyak bukti yang menunjukkan bahwa Gulen dan FETO adalah dalang di balik kudeta. 

Menurut Dubes Gurbuz, peristiwa pada 15 Juli 2016 adalah ancaman nyata yang terjadi untuk kali pertama dalam sejarah Turki. Ia mengaku bersyukur Turki masih tetap utuh dan kokoh berdiri hingga saat ini. 

"Banyak warga sipil tewas. Kami berutang nyawa kepada mereka semua," ungkap Dubes Gurbuz yang berlinang air mata.

 


(WIL)

Myanmar Sepakat Terima 1.500 Rohingya Setiap Pekan

Myanmar Sepakat Terima 1.500 Rohingya Setiap Pekan

20 hours Ago

Myanmar menyanggupi akan menyediakan tempat penampungan sementara bagi Rohingya yang kembali.

BERITA LAINNYA