2.600 Unit Rumah Warga di Rakhine Terbakar

Arpan Rahman    •    Sabtu, 02 Sep 2017 16:27 WIB
konflik myanmarrohingyapengungsi rohingya
2.600 Unit Rumah Warga di Rakhine Terbakar
Asap hitam yang berasal dari rumah warga yang terbakar tampak dari wilayah di Rakhine, Myanmar (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Rakhine: Lebih dari 2.600 rumah telah dibakar di wilayah mayoritas Rohingya di barat laut Myanmar, pada pekan lalu. Pemerintah, pada Sabtu 2 September, mengumumkannya sebagai salah satu serangan paling mematikan yang melibatkan minoritas Muslim dalam beberapa dasawarsa.
 
 
Sekitar 58.600 penduduk Rohingya sudah melarikan diri dari kekerasan ke Bangladesh dari Myanmar, menurut badan pengungsi PBB, UNHCR. Saat ini, para pekerja bantuan di sana berjuang untuk memberi pertolongan.
 
Dilansir AFP, Sabtu 2 September 2017, pejabat Myanmar telah menyalahkan kelompok militan, Tentara Pembebasan Arakan Rohingya (ARSA), atas pembakaran rumah-rumah tersebut. 
 
Kelompok itu hanya mengaku bertanggung jawab atas serangan terkoordinasi ke pos-pos keamanan, pekan lalu, yang memicu bentrokan. Disusul kemudian dengan sebuah serangan balasan besar-besaran dari tentara.
 
Namun warga Rohingya, yang melarikan diri ke Bangladesh, mengatakan bahwa sebuah kampanye pembakaran dan pembunuhan oleh militer Myanmar bertujuan memaksa mereka pergi dari kampung halaman.
 
Perlakuan Myanmar yang mayoritas beragama Buddha terhadap kira-kira 1,1 juta Rohingya adalah tantangan terbesar yang dihadapi pemimpin Aung San Suu Kyi. Putri seorang jenderal pelopor negara itu dikecam oleh kalangan kritikus pro-Barat karena tidak mau berbicara terbuka mengenai minoritas yang sejak lama mengeluhkan telah dianiaya.


 
 
400 orang tewas
 
Sejak 25 Agustus lalu, korban tewas akibat kekerasan terbaru di Rakhine ini dilaporkan sudah mencapai 400 orang. Hal itu disampaikan oleh pihak militer Myanmar.
 
 
Namun para pemerhati HAM menduga jumlah korban tewas lebih dari itu. Mereka bahkan memperkirakan ribuan orang tewas dalam kejadian ini.
 
Sebagai perbandingan, kekerasan komunal pada 2012 di Sittwe, ibu kota Rakhine, menyebabkan pembunuhan hampir 200 orang dan pengungsian sekitar 140.000, kebanyakan dari mereka Rohingya.
 
Pertikaian tersebut merupakan eskalasi dramatis dari konflik yang merebak sejak Oktober, ketika serangan Rohingya yang serupa namun jauh lebih kecil ke pos keamanan dibalas sebuah respons militer yang brutal diiringi dugaan pelanggaran hak asasi manusia.
 
"Myanmar mengevakuasi lebih dari 11.700 warga etnis dari daerah yang terkena dampak pertempuran," kata militer, merujuk pada populasi non-Muslim di Rakhine utara, seperti dilansir dari AFP, Sabtu 2 September 2017.
 
Lebih dari 150 gerilyawan Rohingya melakukan serangan baru terhadap pasukan keamanan, pada Kamis, di dekat desa-desa yang diduduki oleh warga umat Hindu, kata Global New Light of Myanmar yang dikelola negara. Ditambahkan bahwa sekitar 700 anggota keluarga tersebut telah dievakuasi.
 
Sekitar 20.000 Rohingya lainnya berupaya melarikan diri, terjebak di daerah tak bertuan di perbatasan, kata sumber PBB. Saat ini, pekerja bantuan di Bangladesh berjuang buat meredakan penderitaan yang mendadak terjadi karena ribuan orang lapar dan trauma.

 


 


(FJR)