128 Perusahaan Indonesia Berinvestasi di Thailand

Willy Haryono    •    Jumat, 06 Jul 2018 16:28 WIB
indonesia-thailand
128 Perusahaan Indonesia Berinvestasi di Thailand
Pertemuan antara Menlu Retno Marsudi dengan Menlu Thailand Don Pramudwinai (Foto: Dok.Kemenlu RI).

Yogyakarta: Nilai kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Thailand terus meningkat. Tahun lalu, nilai kerja sama kedua negara meningkat 11,95 persen ke angka USD15,75 miliar atau setara Rp226 triliun.
 
Baca: Lewat JCM, Thailand Lanjutkan Momentum Positif dengan Indonesia.
 
"Ada 128 perusahaan Indonesia yang beraktivitas dan berinvestasi di Thailand, termasuk Pertamina dan Lion Air," kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam konferensi pers gabungan bersama Menlu Thailand Don Pramudwinai, di acara Joint Commission Meeting (JCM) ke-9 di Hotel Tentrem, Yogyakarta, Jumat 6 Juli 2018.
 
Menlu Retno menyebut Indonesia banyak mengekspor produk unggulan ke Thailand. Produk yang menjadi sorotan adalah pesawat dan gerbong kereta. Sementara ekspor dari Thailand, ungkap Menlu Retno, kini sudah lebih beragam.
 
Beberapa perusahaan besar Thailand, seperti Charoen Pokphand dan Siam Cement, selama ini juga berinvestasi di Indonesia.
 
"Investasi semakin menguat. Direct investment dari Thailand ke Indonesia nilainya sekitar USD200 juta," sebut Menlu Retno.
 
Sementara itu, Menlu Don juga ingin agar kerja sama investasi antar sektor privat kedua negara terus meningkat. Ia menilai JCM ini merupakan mekanisme kunci untuk memperkuat hubungan bilateral.
 
"Perlu ada peningkatan volume perdagangan. Seperti tadi disebut, ada 128 perusahaan Indonesia yang bekerja sama dengan kami," ujar Menlu Don.
 
Joint Commissions Meeting (JCM) ke-9 antara Indonesia dengan Thailand digelar di Yogyakarta pada 5-6 Juli 2018. Ini merupakan kelanjutan dari forum antar kedua negara yang terakhir kali digelar di Thailand pada 2013.
 
Duta Besar Indonesia untuk Thailand Ahmad Rusdi menyebut JCM merupakan forum untuk mengulas kembali hubungan kedua negara dalam berbagai sektor,  di antaranya perdagangan, ekonomi, keamanan, sejarah, sosial budaya, pendidikan, investasi dan people to people contact.
 


(FJR)