Gadis 15 Tahun di Antara Korban Mutilasi Keji di Jepang

Arpan Rahman    •    Selasa, 07 Nov 2017 11:10 WIB
mutilasi di tangerangpembunuhan
Gadis 15 Tahun di Antara Korban Mutilasi Keji di Jepang
Polisi memeriksa apartemen yang disewa Takahiro Shiraishi di Zama, Jepang, 2 November 2017. (Foto: AFP/JIJI PRESS)

Metrotvnews.com, Tokyo: Tiga siswi SMA, salah satunya berusia 15 tahun, termasuk di antara sembilan korban mutilasi seorang pembunuh berantai di Jepang. Fakta ini diceritakan seorang wanita yang berhasil melarikan diri dari jeratan pelaku.

Tidak semua korban sudah diidentifikasi, namun ada beberapa yang dilacak melalui kartu terbitan bank dan barang lainnya yang tertinggal di kamar apartemen milik Takahiro Shiraishi, pembunuh berantai.

Pada pagi hari di momen Halloween, polisi melihat pemandangan mengerikan di balik pintu depan apartemen Shiraishi: sembilan jasad terpotong-potong dengan 240 bagian yang disimpan di lemari pendingin dan kotak peralatan. Pelaku menaruh banyak kotoran kucing di dua tempat penyimpanan itu untuk menyembunyikan bukti.

Pelaku bermumim di apartemen satu kamar di Zama, pinggiran barat daya Tokyo, pada 22 Agustus.

Shiraishi disebut mampu memikat sejumlah orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri. Ia kemudian menawarkan bantuan untuk merencanakan bunuh diri, atau bahkan mati bersama mereka.

Dia kemudian bertemu korban dan melakukan pembunuhan, walau ternyata para korban hanya ingin berbicara ketimbang mengakhiri hidup.

"Saya sama sekali tidak berniat bunuh diri. Tidak ada (korban) yang ingin mati sebenarnya," saluran televisi Fuji swasta mengutip Shiraishi saat berkata kepada penyidik, seperti dilansir AFP, Senin 6 November 2017.

Obat Tidur atau Dicekik

Dalam menjalankan aksinya, pelaku diduga menggantung para korban sesudah memberi mereka alkohol atau pil tidur. Ada juga beberapa korban yang dicekik hingga pingsan.

Seorang wanita berusia 20-an mengaku telah berjanji bertemu Shiraishi, satu hari setelah penangkapan. Mereka berdua pernah saling membahas mengenai bunuh diri melalui surat elektronik dan telepon selama dua bulan.

"Dia memberi saya dua pilihan, yaitu membuat saya tidak sadarkan diri dengan mengonsumsi obat tidur di minuman saya, atau mencekik saya dengan seutas tali," katanya pada jaringan televisi Fuji.

"Jika saya bertemu dengannya, saya mungkin telah terpotong-potong seperti korban lain. Saya beruntung, dan saya takut sekarang," pungkasnya.
(WIL)