Apa yang akan Terjadi Jika Korut Melancarkan Serangan?

Marcheilla Ariesta    •    Rabu, 06 Sep 2017 13:11 WIB
rudal korut
Apa yang akan Terjadi Jika Korut Melancarkan Serangan?
Misil ICBM milik Korut yang dinamakan Hwasong-14. (Foto: AFP/KCNA VIS KNS)

Metrotvnews.com, Pyongyang: Uji coba bom hidrogen yang dilakukan Korea Utara (Korut) akhir pekan lalu menyedot perhatian dunia internasional. Para pemimpin dunia beramai-ramai mengecam Korut karena aksi provokatif tersebut dinilai sangat membahayakan perdamaian global.

Senjata nuklir yang dimiliki Kourt disinyalir memiliki kekuatan masif. Usai uji coba dilakukan Pyongyang, negara tetangga seperti Tiongkok, Jepang dan Korea Selatan (Korsel) langsung melakukan tes radioaktif.

Hasil yang ditemukan mengejutkan. Meski tak ada pencemaran radioaktif baik di udara, air, maupun tanah, namun bom tersebut memiliki kekuatan hingga 120 kilotons, atau delapan kali lebih besar dari bom yang dijatuhkan AS di Hiroshima pada 1945.

Jika Bom Hiroshima dengan kekuatan 15 kilotons bisa membunuh 80 ribu orang, bagaimana kekuatan bom nuklir Korut? Berikut lima fakta mengenai Korea Utara dan Kim Jong-un yang perlu Anda ketahui, seperti dilansir dari laman CNN, Rabu 6 September 2017:

1. Mengapa Korut melakukan uji coba bom nuklir?

Sebagai negara terisolasi, Korut tentunya berpikir harus memiliki kekuatan agar bisa dilihat dunia. Aksi cari perhatian yang dilakukan Korut adalah dengan uji coba rudal balistik dan nuklir.

Memiliki senjata nuklir merupakan mekanisme pertahanan diri Korut yang dianggap mereka paling efektif. Apalagi, negara pimpinan Kim Jong-un itu hanya memiliki sedikit teman.

Banyak ahli meyakini Korut awalnya tidak mau menggunakan senjata tersebut. Kakek Jong-un, Kim Il-sung, tahu jika kalau negaranya menggunakan senjata nuklir, maka rentan memulai perang dan mereka sadar tidak akan menang karena tidak memiliki banyak sekutu.

"Para pemimpin Korut tahu kalau orang mati tidak perlu uang, dan mereka percaya bahwa tanpa senjata nuklir mereka lebih baik mati saja," tutur Andrei Lankov, seorang profesor di Universitas Kookmin, Seoul, Korea Selatan.


Kim Jong-un. (Foto: KCNA)

2. Akankah ada perang akibat tes nuklir Korut?

Presiden Amerika Serikat Donald Trump, saat ditanya mengenai apakah akan berperang dengan Korea Utara selepas negara tersebut melakukan uji coba nuklir, hanya menjawab 'lihat nanti.' 

Begitu Korut melakukan uji coba bom nuklir, AS dan Korsel langsung mempersiapkan militernya untuk berperang. Mereka bahkan melakukan latihan bersama untuk mengalahkan Korut.

Seoul juga melakukan uji coba rudal jarak dekat yang ditargetkan langsung ke situs nuklir Pyongyang.

Baca: Korsel Curigai Korut sedang Bersiap Luncurkan Misil ICBM

3. Apa yang akan terjadi jika Kim Jong-un menyerang?

Jika Korut melakukan serangan, AS dengan gamblang mengatakan sudah menempatkan pertahanan di berbagai tempat (Korsel, Jepang, Guam). Hal ini diungkapkan Trump saat Pyongyang meluncurkan rudal ke perairan di lepas pantai wilayah Guam, AS.

Sistem pertahanan anti-rudal THAAD AS disebut mampu menembak jatuh rudal balistik pendek, menengah dan yang berbasis kapal. Sistem canggih ini bahkan dapat melacak 100 rudal secara bersamaan dan mencegatnya.

THAAD dianalogikan para analis seperti menembak peluru dengan menggunakan peluru lain. Secara teoritis, THAAD akan melepaskan rudal yang akan menghancurkan rudal tanpa meledakkan hulu ledak nuklirnya, meski radiasi yang dipancarkan masih tetap berbahaya.



4. Apa yang bisa dilakukan masyarakat internasional?

Sanksi dan negosiasi menjadi dua pilihan untuk menghentikan kegilaan Korut. Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) telah berusaha melumpuhkan program senjata nuklir Korut selama lebih dari satu dekade tanpa ada hasil yang signifikan.

Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut, negosiasi bisa menjadi jalan utama untuk meredam program nuklir Korut.

5. Siapa yang bisa membantu?

Hanya sedikit yang bisa membantu bernegosiasi dengan Korut, pasalnya negara itu hanya memiliki sedikit teman. Namun, sekutu Pyongyang yang paling banyak diharapkan adalah Tiongkok.

Tiongkok secara konsisten mendukung sanksi PBB terhadap Korut. AS mengeluhkan Beijing tidak cukup berkontribusi secara sanksi ekonomi untuk menekan Pyongyang.

Padahal, Tiongkok sudah berulang kali mengatakan sanksi ini tidak akan berhasil. Tiongkok dan Rusia yang sama-sama sekutu Korut sepakat ingin bernegosiasi dengan negara komunis tersebut.

 


(WIL)

Bersama Membantu Rohingya

Bersama Membantu Rohingya

1 hour Ago

AUNG San Suu Kyi oleh dunia internasional sesungguhnya dinilai memiliki semua prasyarat yang diperlukan…

BERITA LAINNYA