Duka Rohingya di Negeri Tanah Emas

Fauzan Hilal    •    Sabtu, 02 Sep 2017 13:00 WIB
rohingya
Duka Rohingya di Negeri Tanah Emas
Massa melakukan aksi di depan Kedubes Myanmar. Meminta Indonesia menerima pengungsi Rohingya dan melakukan langkah diplomatik. MI/RAMDANI.

Metrotvnews.com, Jakarta: Puluhan tahun Muslim Rohingya digelayuti rasa takut. Sang Ayah dibunuh, ibu diperkosa sebelum nyawanya direnggut begitupun dengan nasib sang anak. Mereka yang melarikan diri, kini kelaparan, telunta-lunta tanpa memiliki kewarganegaraan.
 
Pemerintah Myanmar tidak menunjukkan kesungguhannya mengakhiri tragedi kemanusiaan di Negeri Tanah Emas itu. Tentara Myanmar di perbatasan justru melepaskan tembakan ke arah warga yang melarikan diri dari negara tersebut.
 
Mereka yang melewati perbatasan harus berhadapan dengan tentara Bangladesh, mereka ditangkap dan dikembalikan ke Myanmar karena melewati zona `garis nol`. Di sana pula, tentara Myanmar menembakkan mortir dan senapan mesin ke penduduk desa yang mencoba menyelamatkan nyawa dengan menyeberang ke Bangladesh.
 
Penduduk desa juga ditangkap kira-kira empat kilometer di wilayah Bangladesh dalam perjalanan ke sebuah kamp pengungsi di Kutupalong. Kepala polisi setempat, Abul Khaer, menyebut ribuan orang Rohingya hidup dalam kondisi sengsara di lokasi itu.
 
"70 orang ditahan dan kemudian dikembalikan ke Myanmar oleh penjaga perbatasan," kata Khaer kepada AFP.
 
"Mereka memohon kepada kami untuk tidak mengirim mereka kembali ke Myanmar," kata seorang polisi yang tidak mau disebut namanya.

Baca: Amnesty: RI Perlu Ambil Tindakan Serius atas Kejahatan di Myanmar

Rakhine sudah menjadi sarang konflik sektarian yang berfokus pada minoritas Muslim Rohingya tanpa kewarganegaraan. Mereka dicerca dan ditolak sebagai imigran ilegal di Myanmar.
 
Myanmar terlalu tertutup menanggapi masalah ini. Bantuan kemanusiaan sulit menembus penjagaan dan perwakilan negara lain yang ingin masuk untuk berbicara secara damai. Myanmar terlalu mengutamakan prinsip non-intervention dan mengabaikan prinsip Hak Asasi Manusia (HAM).


 
Global Qurban Tetap Akan Tembus Rohingya
 
Direktur Global Humanity Respon Aksi Cepat Tanggap (ACT), Bambang Triono, mengatakan, meningkatnya eskalasi ketegangan di Rohingya tak membuat lembaga kemanusiaan ACT mengurungkan niat mendistribusikan hewan kurban ke wilayah tersebut. "Kita tetap akan tembus ke daerah konflik tersebut. Ini komitmen kita," kata Bambang.
 
Mitra Aksi Cepat Tanggap yang tinggal di Bangladesh membenarkan adanya eksodus warga Rohingya yang baru tiba di Bangladesh. “Di Arakan (Rakhine), sedang terjadi serangan penembakan kepada Muslim Rohingya. Lumayan banyak korbannya. Ini yang membuat mereka semua mau tak mau mengungsi ke Bangladesh,” ungkap Hasan, mitra ACT di Cox’s Bazar, Bangladesh
 
Rohingya merupakan kelompok etnis muslim asli yang menetap di wilayah Arakan sejak abad XVI. Wilayah tersebut kini menjadi bagian dari Negara Bagian Rakhine, wilayah Myanmar Barat yang berbatasan langsung dengan Bangladesh.
 
Istilah Rohingya sendiri berasal dari kata Rohai atau Roshangee yang berarti penduduk muslim Rohang atau Roshang (sebutan untuk daerah tersebut sebelum dinamai Arakan).
 
Baca: Tragedi Rohingya Tragedi Kita
 
Sejak sebelum kemerdekaan Myanmar, etnis Rohingya telah berkali-kali berusaha disingkirkan dari wilayahnya. Pada 2012, muncul gerakan Rohingya Elimination Group yang didalangi oleh kelompok ekstremis 969.
 
Konflik itu menewaskan 200 jiwa dan 140.000 warga Rohingya terpaksa tinggal di kamp-kamp konsentrasi yang tidak manusiawi.
 
Menurut sebuah studi oleh International State Crime Initiative (ISCI) dari Queen Mary University of London, Rohingya sudah mulai memasuki tahap akhir genosida yaitu pemusnahan massal dan penghilangan dari sejarah. PBB juga menyebut Rohingya sebagai kelompok etnis paling teraniaya di dunia.




(FZN)