Pelapor PBB Sebut Korban Tewas Kekerasan Rakhine Capai Lebih 1.000 Jiwa

Fajar Nugraha    •    Jumat, 08 Sep 2017 19:54 WIB
konflik myanmarrohingyapengungsi rohingya
Pelapor PBB Sebut Korban Tewas Kekerasan Rakhine Capai Lebih 1.000 Jiwa
Warga etnis Rohingya yang lari dari kekerasan di Rakhine tiba di Kota Teknaf, Bangladesh (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, New York: Pelapor senior Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Yanghee Lee menyebutkan, korban tewas dalam kekerasan Myanmar diyakini mencapai 1.000 orang.
 
Kembali kritikan diarahkan kepada pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi. Tokoh demokrasi Myanmar itu didesak untuk bertindak nyata mengatasi krisis di Rakhine itu.
 
PBB pun mengatakan bahwa dalam dua minggu terakhir, sekitar 270 ribu warga Rakhine sudah mengungsi ke Bangladesh. Kedatangan para pengungsi baru ini makin mempersulit tempat penampungan yang sudah sesak dipenuhi pengungsi sebelumnya.
 
"Berdasarkan pengakuan saksi dan pola serangan sebelumnya, kemungkinan lebih dari seribu jiwa sudah tewas," tutur Yanghee Lee, seperti dikutip AFP, Jumat 8 September 2017.
 
"Jumlah korban tewas ini kemungkinan berasal dari dua belah pihak yang bertikai, tetapi sebagian besar korban terkonsentrasi kepada populasi Rohingya," jelasnya.
 
Bangladesh selama ini menjadi tempat penampungan warga Rakhine yang mengungsi. Dengan arus pengungsi baru, menambahkan jumlah pengungsi bertambah menjadi sekitar 670 ribu jiwa.
 
Indonesia siap bantu Bangladesh
 
Menteri Luar Negeri Retno L.P Marsudi melakukan pertemuan langsung dengan Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina dan Menlu Abul Hasan Mahmood Ali pada Selasa 5 September 2017 lalu.
 
Dalam pertemuan terpisah itu, Menlu Retno menegaskan Indonesia bersedia untuk meringankan beban Bangladesh dalam menangani luapan pengungsi Rakhine State yang menyeberang dari Myanmar.
 
 
Menlu menyebutkan pihaknya mendapatkan informasi mengenai kondisi di lapangan dan juga tantangan yang dihadapi di lapangan. Berarti tempat di mana saat ini para pengungsi berada yang mayoritas tentu saja berada di wilayah perbatasan Myanmar-Bangladesh.
 
"Kedua kita sampaikan simpati pada Pemerintah Bangladesh yang memiliki beban cukup besar. Karena jumlah pengungsi yang diterima cukup banyak. Oleh karena itu, saya bawa amanah dari Presiden bahwa Indonesia menawarkan dukungannya dan kontribusi kepada Pemerintah Bangladesh, untuk mengurangi beban dalam menangani krisis kemanusiaan ini," tegasnya.
 
Selama di Bangladesh, Menlu Retno sempat pula melakukan pertemuan dengan perwakilan Organisasi Imigran Internasional/International Organization for Migration (IOM) dan Lembaga PBB yang mengurus pengungsi, United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) yang berada di Bangladesh. Pertemuan dilakukan untuk membahas bantuan apa yang bisa diberikan kepada Bangladesh.
 
 
PM Bangladesh Sheikh Hasina pun menanggapi positif inisiatif Indonesia. Menurut Menlu Retno, niat baik pemerintah dan Presiden RI untuk terus mendukung dalam penanganan masalah pengungsi (Rakhine yang berada) di wilayah Bangladesh. 
 
Detail dukungan yang akan dikontribusikan Pemerintah RI akan ditindaklanjuti oleh Dubes RI untuk Dhaka dengan kemenlu dan Kementerian Bangladesh terkait lain yang menangani isu pengungsi ini.

 

 
(FJR)