Kerja Sama Terorisme, ASEAN Harus Waspadai ISIS

Stela Nau    •    Rabu, 07 Sep 2016 19:57 WIB
ktt asean
Kerja Sama Terorisme, ASEAN Harus Waspadai ISIS
Presiden Joko Widodo di KTT ASEAN peringatkan pentingnya waspadai ISIS (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Vientiane: Kerja sama maritim antara negara-negara anggota ASEAN, sudah sepatutnya diimplementasikan. Selain itu kerja sama hadapi ancaman teror khususnya kelompok Islamic State (ISIS) juga perlu ditingkatkan.
 
"Presiden mengingatkan mengenai pentingnya kerja sama maritim. Tahun lalu ingat dalam EAS (East Asia Summit/KTT Asia Timur) ada satu prioritas baru di mana sudah diadopt di statement mengenai kerja sama maritim. Saatnya kita memimplementasikan kerja sama maritim di konteks EAS ini," ujar Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, di Vientiane, Laos, Rabu (7/9/2016).
 
"Nah, tahun ini teman-teman Indonesia dan Australia akan menjadi negara pertama yang mengimplementasikan EAS. Kerja sama maritim dalam konteks EAS dilakukan dalam bentuk seminar masalah kawasan. Di dalam konteks maritime juga Presiden mengingatkan ada beberapa tantangan yang harus kita hadapi misalnya masalah pencurian ikan, masalah sengketa wilayah, masalah pencuikan dan perampokan bersenjata yang semuanya harus ditangani dengan kerja sama yang erat," tegas Menlu.
 
Menlu pun menambahkan bahwa  di dalam konteks keamanan maritim ini, Presiden juga menyatakan atau menyampaikan mengenai masalah keamanan di Perairan Sulu dan sekitarnya. Presiden sebelumnya menyatakan jangan sampai situasi saat ini di Perairan Sulu dan sekitarnya ini menjadi 'the new normal'
 
Tantangan dalam kawasan juga disampaikan dalam pertemuan retreat antara kepala negara dan pemerintahan ASEAN. Kembali Menlu mengingatkan, Presiden Jokowi menilai bahwa ASEAN adalah rumah yang harus dijaga oleh setiap anggotanya.
 
"Jangan sampai rumah kita menjadi tertantang karena berbagai tindakan aksi yang dilakukan oleh negara-negara lain. Presiden juga melihat bahwa kalau kita bicara mengenai kawasan sebenarnya sudah ada mekanisme-mekanisme dialog dan juga sudah ada mengenai arsitektur kawasan," pungkas Menlu.


Menlu Retno Marsudi saat beri keterangan kepada wartawan (Foto: Dok. Kemenlu RI)
 
 
Mekanisme dialog regional ini pun bisa dilakukan lewat ASEAN Plus Three, EAS dan ASEAN Regional Forum (ARF). Kini menjadi sebuah pertanyaan timbul mengapa mekanisme ini arsitektur kawasan ini belum sepenuhnya dapat menjamin adanya stabilitas dan keamanan di kawasan. 
 
"Oleh karena itu, Presiden menyarankan kita perlu memikirkan adanya suatu arsitektur keamanan kawasan yang lebih kokoh dan teman-teman sudah mendapatkan informasi bahwa kita, Indonesia, sedang berusaha untuk melihat apa yang bisa kita lakukan di dalam konteks arsitektur keamanan kawasan yang baru. Yang baru ini bukan berarti kita harus tetap dari awal lagi karena semua dasar-dasar arsitektur kawasan kita sudah miliki," jelas mantan Dubes Indonesia untuk Belanda itu.
 
"Kita juga sudah melakukan compare note yang dimiliki oleh Tiongkok, konsep yang dimiliki India, oleh Rusia, kita sudah workshop. Kita juga sudah buat sintesa paper-nya sehingga dalam satu titik nanti mungkin kita akan membuat suatu konsep dimana value nya di share untuk menjadi aturan-aturan baru. Aturan baru di dalam arsitektur atau tatanan baru keamanan di Kawasan," tegasnya.
 
ASEAN harus sigap hadapi ancaman ISIS
 
Poin lain yang disampaikan oleh Presiden dalam Retreat dengan pemimpin ASEAN lain adalah mengenai masalah perlunya upaya bersama sekali lagi untuk meningkatkan kemampuan melawan ekstremisme dan terorisme. 
 
"Presiden mengatakan kita mendapatkan informasi. Informasi mengenai kemungkinan adanya keinginan dari ISIS untuk memindahkan kegiatannya atau meningkatkan kegiatannya di Asia Tenggara. Informasi seperti ini harus secara cepat kita alert (waspadai) dan kita kemudian tanggapi dengan dua cara. Tentunya dengan meningkatkan keamanan masing-masing dan juga harus dihadapi secara bersama," imbuh Menlu.
 
Oleh karena itu, Indonesia sekali lagi mengingatkan ada informasi ini yang harus ditindaklanjuti dengan kerja sama-kerja sama yang sudah ada di ASEAN.
 
Menlu Retno pun menilai bahwa kerja sama di bidang kontra terorisme mekanismenya sudah cukup. Sehingga apa yang disampaikan Presiden menjadikan kita lebih waspada bagi seluruh anggota ASEAN dan  meningkatkan kerja sama di bidang kontra terorisme.



(FJR)