Renggang dengan AS, Presiden Filipina Pilih Kunjungi Tiongkok

Arpan Rahman    •    Rabu, 12 Oct 2016 19:28 WIB
as-filipina
Renggang dengan AS, Presiden Filipina Pilih Kunjungi Tiongkok
Presiden Filipina Rodrigo Duterte akan kunjungi Tiongkok (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Beijing: Pihak Tiongkok menegaskan bahwa Presiden Filipina Rodrigo Duterte akan mengunjungi Tiongkok pekan depan. Kunjungan dilakukan di saat pemimpin negara di Asia Tenggara itu dengan sekutu tradisionalnya Amerika Serikat (AS) menjadi renggang.
 
Dipimpin Duterte, hubungan Manila dengan Washington telah berada di bawah tekanan dan presiden yang baru terpilih itu telah memilih untuk mengesampingkan permusuhan bertahun-tahun dengan Tiongkok, terutama atas Laut China Selatan yang disengketakan, untuk membentuk kemitraan baru.
 
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Geng Shuang, membenarkan pihaknya akan lebih dahulu berkunjung ke Manila di mana Duterte akan bertemu Presiden Xi Jinping dan Perdana Menteri Li Keqiang dalam pertemuan 18-21 Oktober. Dikatakan, kedua pihak akan bertukar pandangan mendalam tentang bagaimana meningkatkan hubungan, kerja sama, dan isu-isu regional.
 
Sekitar 250 pengusaha Filipina akan mengunjungi Beijing bersama Duterte. Pengusaha Filipina sangat ingin berbicara dengan pengusaha Tiongkok dan pejabat pemerintah tentang penawaran di berbagai sektor, dari rel, dan konstruksi untuk pariwisata, agribisnis, kekuasaan dan manufaktur.
 
"Tiongkok berharap untuk meningkatkan saling percaya antara kedua negara, memperdalam kerja sama praktis, dan melanjutkan tradisi persahabatan melalui kunjungan Presiden Duterte," kata Geng dalam pengarahan harian kepada media seperti dikutip Daily Mail, Rabu (12/10/2016).
 
"Kedua pihak harus tepat menangani sengketa melalui perundingan dan mempromosikan sebuah strategi, hubungan kerja sama yang didedikasikan untuk perdamaian dan pembangunan," tambahnya.
 
"Filipina adalah tetangga tradisional yang ramah untuk Tiongkok. Kedua bangsa memiliki sejarah panjang persahabatan," puji Geng. 
 
Terpilih pada Juni, perang mematikan Duterte terhadap narkoba dan dukungan untuk pembunuhan di luar hukum telah memicu kemarahan AS. Negeri Paman Sam selama ini dikenal secara tradisional sebagai salah satu pendukung paling setia Filipina.
 
Duterte telah menanggapi kritik itu dengan mengatakan Presiden AS Barack Obama "pergi ke neraka saja" seraya mengatakan ingin melepaskan ketergantungan Filipina pada Paman Sam.
 
Bertepatan dengan itu terjadi pemulihan hubungan dengan Tiongkok, meskipun perang dingin kedua negara telah membayangi dalam beberapa tahun terakhir lantaran ketidakpercayaan atas rivalitas klaim teritorial di Laut Cina Selatan.
 
Duterte mengatakan, pada Selasa 11 Oktober, juga mungkin akan mengunjungi Rusia setelah perjalanan ke Jepang, bulan ini.
 
Putusan pengadilan arbitrase di Den Haag, pada 12 Juli, menyatakan Tiongkok telah melanggar hak-hak kedaulatan Filipina di Laut Cina Selatan. Putusan itu mengancam kerusakan lebih lanjut dalam hubungan antara Manila dan Beijing.
 
Tapi kunjungan yang akan dilakukan Duterte ini bisa membuktikan sebuah titik balik, beserta janji-janji untuk mengadakan pembicaraan dengan Tiongkok atas sengketa Laut China Selatan dan tanda-tanda hubungan ekonomi baru yang berpotensi jauh lebih dalam.
 
Geng mengulang standar kebijakan Beijing, bahwa Tiongkok ingin menyelesaikan sengketa melalui perundingan dengan pihak-pihak yang terlibat langsung, termasuk Filipina.



(FJR)

Santiago De Cuba Bersiap untuk Pemakaman Fidel Castro

Santiago De Cuba Bersiap untuk Pemakaman Fidel Castro

5 hours Ago

Proses pemakaman untuk tokoh revolusi Kuba, Fidel Castro mulai dipersiapkan di kota terbesar kedua…

BERITA LAINNYA