Indonesia Fokuskan Keamanan Samudera Hindia dalam IORA

Sonya Michaella    •    Rabu, 12 Oct 2016 09:16 WIB
iora
Indonesia Fokuskan Keamanan Samudera Hindia dalam IORA
Dirjen Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri, Desra Percaya (kanan) dan juru bicara Kemenlu Arrmanatha Nasir di Jakarta, 11 Oktober 2016. (Foto: MTVN/Sonya Michaella)

Metrotvnews.com, Jakarta: Menjaga stabilitas keamanan wilayah Samudera Hindia dan juga meningkatkan kerja sama antar negara-negara sekitarnya menjadi fokus Indonesia dalam pertemuan Indian Ocean Rim Association (IORA).

"Beberapa tahun terakhir kan ada sejumlah ketegangan dan konflik di kawasan. Indonesia melihat ada potensi konflik lagi di beberapa negara kawasan Samudera Hindia. Selain itu, memajukan kerja sama ekonomi antar negara anggota juga," ungkap Dirjen Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri, Desra Percaya, di Jakarta, Selasa (11/10/2016).

"Keketuaan Indonesia sampai 2017 juga memperbesar pengaruh kita membentuk kawasan Samudera Hindia menjadi new gold center. Indonesia juga mendorong atasi tantangan yang muncul seperti people smuggling, isu maritim, IUU Fishing, dan climate change," lanjutnya.

Pertemuan Indian Ocean Rim Association (IORA) akan dilaksanakan dua pekan lagi di Bali. Sebelumnya, akan diselenggarakan IORA Academic Meeting dan IORA Bussiness Meeting di Jakarta pada 12-13 Oktober besok.

"IORA Concord nanti pada 22-23 Oktober di Bali akan dirampungkan. 24 Oktober ada working group trade and investment. Pada 25-26 Oktober ada SOM, dan 27 Oktobernya ada Ministerial Meeting," ujarnya lagi.

Tak hanya itu, pada 28 Oktober bertempat di Bali pula, akan dilaksanakan two plus two meeting antara Indonesia dan Australia.

Penyelenggaraan IORA ini akan menghasilkan Bali Communicate di mana akan berisi persiapan yang dilakukan untuk penyelenggaraan KTT IORA pada Maret 2017 mendatang di Jakarta.

"Substansi masih dibahas tentu sekarang. IORA Concord ini sudah ketiga kalinya. Pada IORA Meeting di Padang tahun lalu juga sudah dibahas," tutur Desra.

Ia menambahkan, IORA yang saat ini diakui sebagai observer di Perserikatan Bangsa-Bangsa harus mulai mengukuhkan 'jati diri' dan tujuan ke depannya. Maka, dalam peringatan 20 tahun IORA (berdiri pada 1997), diselenggarakanlah KTT IORA di Jakarta.

Desra menuturkan bahwa political decision IORA sendiri disepakati pada pertemuan IORA di Padang tahun lalu. "Saat ini, Indonesia berhasil membuat suatu consolidate text di mana concord bentuk politik beserta action plan-nya," ucap mantan duta besar RI untuk PBB ini.

Namun, Desra menolak jika IORA disamakan dengan APEC. "Kalau sama dengan APEC, kita tidak bergerak ke situ. Ini organisasi yang relatif baru. Interaksi antar negata anggota masih perlu ditingkatkan lagi," jelasnya.

Ketika ditanya perihal pertemuan bilateral antara Indonesia dan negara-negara anggota IORA, Desra mengungkapkan bahwa ada hal yang jarang dilakukan di pertemuan-pertemuan biasanya, yaitu pertemuan dengan negara dialog partner.

IORA memiliki dialog partner dengan Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, Tiongkok, Jepang dan Mesir. 

"Tujuan pertemuan dengan tujuh negara dialog partner ini adalah, kita harus engage dengan mereka. Tujuh negara itu juga membantu IORA akan bergerak ke mana," ucap Desra.

IORA merupakan organisasi negara-negara kawasan pesisir Samudera Hindia dengan fokus kerja sama ekonomi.

Didirikan pada 6-7 maret 1997 silam, sekretariat pertama IORA bertempat di Port Luis, Mauritius. Saat ini, IORA beranggotakan 21 negara, antara lain Afrika Selatan, Australia, Bangladesh, India, Indonesia, Iran, Madagaskar, Mauritius, Uni Emirat Arab, Singapura, Somalia.

Selain itu masih ada pula Yaman, Mozambik, Tanzania, Srilanka, Thailand, Oman, Malaysia, Seychelles, Union of the Comoros dan Kenya.



(WIL)

Hasil Referendum Italia dan Hubungannya dengan Uni Eropa

Hasil Referendum Italia dan Hubungannya dengan Uni Eropa

1 day Ago

Perdana Menteri Italia Metteo Renzi mundur dari jabatannya setelah gagal menang dalam referendum…

BERITA LAINNYA