Malala: "Dunia Menunggu" Suu Kyi Atasi Kekerasan terhadap Rohingya

Arpan Rahman    •    Senin, 04 Sep 2017 16:26 WIB
konflik myanmarrohingyapengungsi rohingya
Malala:
Malala Yousafzai berbicara dalam sebuah acara di Mexico City, Meksiko, 1 September 2017. (Foto: AFP/ALFREDO ESTRELLA)

Metrotvnews.com, Oxford: Malala Yousafzai meminta Aung San Suu Kyi mengutuk perlakuan "tragis dan memalukan" yang dialami Muslim Rohingya di Myanmar. Permintaan itu muncul menyusul kekerasan yang menewaskan ratusan orang, terutama Rohingya, di Rakhine.

Dalam sebuah pernyataan di Twitter, peraih Nobel Perdamaian tersebut mengatakan kepada rekan sejawatnya bahwa "dunia sedang menunggu" Suu Kyi bertindak atas kerusuhan yang telah menyebabkan puluhan ribu orang melarikan diri ke negara tetangga, Bangladesh.

Intervensi Yousafzai terjadi sesudah Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson memperingatkan Aung San Suu Kyi, pemimpin de facto Myanmar, bahwa perlakuan atas kelompok etnis minoritas itu "menodai" reputasi negara tersebut.

Pejabat keamanan Myanmar dan gerilyawan Rohingya saling tuding atas terbakarnya pedesaan dan berbagai tindakan kejam di Rakhine. Konflik terbaru dipicu penyerangan militan Rohingya terhadap beberapa pos polisi Myanmar pada 25 Agustus.

Yousafzai mengaku sedih mendengar laporan adanya sejumlah pemuda yang tewas dalam operasi perburuan militan oleh militer Myanmar. Ia juga mendesak pemerintah Myanmar memberikan status kewarganegaraan kepada Rohingya. 

Dia menulis: "Selama beberapa tahun terakhir, saya berulang kali mengutuk perlakuan tragis dan memalukan ini."

"Saya masih menunggu rekan saya sesama peraih Nobel Aung San Suu Kyi melakukan hal yang sama. Dunia sedang menanti dan Muslim Rohingya sedang menunggu," cuitnya seperti dilansir Guardian, Senin 4 September 2017.

Hampir 400 orang tewas dalam kerusuhan baru-baru ini. Sejumlah pihak menuduh militer Myanmar melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan di Rakhine.

"Hentikan kekerasan. Hari ini kita melihat foto anak-anak kecil yang dibunuh pasukan keamanan Myanmar. Anak-anak ini tidak menyerang siapapun, namun rumah mereka dibakar sampai hangus," tulis Yousafzai.

"Jika mereka bukan orang Myanmar, di mana mereka tinggal selama beberapa generasi, di mana? Orang Rohingya harus diberi kewarganegaraan di Myanmar, negara tempat mereka dilahirkan," sambungnya, merujuk pada klaim pemerintah Myanmar bahwa Rohingya adalah imigran gelap asal Bengali.


Aung San Suu Kyi. (Foto: AFP)

BacaTridianto: Harusnya Aung San Suu Kyi Malu

Melarikan Diri ke Bangladesh

Pada Sabtu 2 September, Johnson mengirim pesan kepada Aung San Suu Kyi agar menggunakan "semua kualitas luar biasanya" demi mengakhiri kekerasan.

"Aung San Suu Kyi benar-benar dianggap sebagai salah satu tokoh paling inspiratif di zaman kita, namun perlakuan atas Rohingya sangat menodai reputasi Burma," ujar Johnson, menggunakan nama lain dari Myanmar. 

"Dia menghadapi tantangan besar dalam modernisasi negaranya. Saya berharap sekarang dia bisa menggunakan semua kualitasnya yang luar biasa guna menyatukan negaranya. Untuk menghentikan kekerasan dan mengakhiri prasangka yang menimpa, baik umat Muslim maupun komunitas lainnya di Rakhine," seru Johnson.

"Sangat penting bahwa dia mendapat dukungan militer Burma, dan bahwa upaya perdamaiannya tidak terhenti. Dia dan semua di Burma akan mendapat dukungan penuh dalam hal ini," lanjut dia.

Menurut badan pengungsi PBB, diperkirakan 87.000 Rohingya sudah melintas ke perbatasan ke Bangladesh sejak kekerasan meletus pada 25 Agustus. Akibatnya, kamp-kamp bantuan di Bangladesh mendekati kapasitas penuh.

Yousafzai nyaris tewas pada 2012 setelah ditembak kepalanya oleh kelompok militan Taliban Pakistan. Ia ditembak karena kampanye terbukanya mengenai hak perempuan atas pendidikan. 

Sebagai peraih Nobel Perdamaian termuda pada 2014, Yousafzai baru-baru ini diterima di Universitas Oxford untuk kuliah di jurusan filsafat, politik, dan ekonomi.

 


(WIL)

Bersama Membantu Rohingya

Bersama Membantu Rohingya

1 hour Ago

AUNG San Suu Kyi oleh dunia internasional sesungguhnya dinilai memiliki semua prasyarat yang diperlukan…

BERITA LAINNYA