Hubungan Indonesia-Australia Fluktuatif bak Roller Coaster

Willy Haryono    •    Jumat, 03 Nov 2017 13:59 WIB
indonesia-australia
Hubungan Indonesia-Australia Fluktuatif bak <i>Roller </i>Coaster
Seminar Diplomasi Publik Indonesia terhadap Australia di Widya Graha LIPI, Jakarta, Jumat 3 November 2017. (Foto: Willy Haryono/Metrotvnews.com).

Metrotvnews.com, Jakarta: Hubungan Indonesia dengan Australia sudah berlangsung lama, bahkan sejak era 1640 lewat kontak warga asli penduduk di benua Australia dengan Makassan dari Sulawesi. Kedua negara mulai meresmikan hubungan pada 1949, empat tahun setelah Indonesia merdeka. 
 
Sejak saat itu hingga kini, hubungan Indonesia dan Australia dipenuhi dinamika. Terkadang berjalan harmonis, tapi juga pernah jatuh ke titik terendah. Meski begitu, kedua negara masih tetap bersahabat dan menjalin hubungan baik dari waktu ke waktu.
 
"Diplomasi Indonesia dengan Australia selalu menjadi tema penting karena kedekatan dua negara, tapi hampir selalu sensitif dan fluktuatif," ucap Riefqi Muna, peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, dalam seminar Diplomasi Publik Indonesia terhadap Australia di Widya Graha LIPI, Jakarta, Jumat 3 November 2017. 
 
"Namun walau terjadi krisis, hampir selalu (hubungan kedua negara) cepat normal lagi. Ini mencerminkan interdependensi antar keduanya," lanjut dia.
 
Sejumlah masalah pernah menerpa hubungan kedua negara, di antaranya mengenai penyadapan di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kasus narkotika Bali Nine dan boat people, yang merujuk para pencari suaka yang berusaha masuk ke Australia dari Indonesia.
 
Australia pernah menarik duta besarnya saat Indonesia mengeksekusi mati dua orang dari Bali Nine, yakni Myuran Sukumaran dan Andrew Chan. Hubungan kembali menghangat setelah melewati proses diplomasi, dan setelah Perdana Menteri Australia saat itu, Tony Abbott, mengunjungi Indonesia pada 2015. 
 
Evi Fitriani, Ketua MBRC Universitas Indonesia yang juga dosen jurusan hubungan internasional, menilai dinamika seperti ini sudah hampir pasti terjadi antar dua negara bertetangga. Menurutnya, ada satu faktor krusial yang menentukan naik turunnya hubungan Jakarta dengan Canberra.
 
"Memang hubungan Australia dan Indonesia ini seperti roller coaster, dan itu tergantung siapa pemimpinnya saat itu. Sekarang hubungan Indonesia dan Australi hangat, tapi saat masa Abbott sangat dingin," sebut Evi.
 
"Pak Marty pernah bilang, saat itu hubungan kita dengan Australia ada di titik yang sangat rendah," sambung dia, merujuk pada mantan Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa. 
 
Presiden Joko Widodo telah melakukan hubungan bilateral dengan PM Australia Malcolm Turnbull pada September 2016. Satu tahun sebelumnya, kedua pemimpin sempat blusukan bareng dan berfoto bersama di Tanah Abang. 
 
Kunjungan balasan dilakukan Presiden Jokowi ke Australia pada Februari 2017. Kepulangan Presiden membawa beberapa kesepakatan dengan Australia, yakni bidang ekonomi, politik, hukum, keamanan, serta peningkatan hubungan people to people. 



(FJR)