KT HAM Sebut Kekerasan Paling Brutal Terjadi di Rakhine

Marcheilla Ariesta    •    Senin, 05 Feb 2018 12:51 WIB
konflik myanmarrohingyapengungsi rohingya
KT HAM Sebut Kekerasan Paling Brutal Terjadi di Rakhine
KT HAM PBB Zeid Raad Al Hussein memberikan keterangan di Kemenlu, Jakarta, 5 Februari 2018. (Foto: Marcheilla Ariesta)

Jakarta: Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Zeid Ra'ad Al Hussein mengatakan krisis kemanusiaan di Rakhine merupakan kekerasan paling brutal terhadap hak asasi manusia (HAM). 

"Kekejaman yang diceritakan para pengungsi, yang separuh dari mereka adalah etnis Rohingya yang tinggal di Rakhine utara, termasuk dalam kategori pembunuhan brutal, penghilangan secara paksa, penahanan sewenang-wenang, dan kekerasan seksual paling mengerikan," ujar Zeid, saat ditemui di Kementerian Luar Negeri Indonesia dalam Jakarta International Conversation on Human Rights, Jakarta, Senin 5 Februari 2018.

Dia menambahkan, genosida dan pembersihan etnis kemungkinan besar telah terjadi di Rakhine. Zeid menuturkan Myanmar selama ini menolak memberikan kewarganegaraan, status hukum, dan akte kelahiran kepada Rohingya di Rakhine.

"Namun, terlepas dari ketidakadilan di sana dengan dampak regional yang nyata, ekonomi Myanmar tumbuh pesat," ungkapnya.

Pada 2015, pertumbuhan ekonomi naik hingga 7,3 persen dan 6,5 persen pada 2016. "Ini adalah ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara," imbuh dia.

Zeid menuturkan, solusi bagi Pemerintah Myanmar untuk menyelesaikan krisis ini adalah memusatkan perhatian pada rencana pengembangan sosio-ekonomi di Rakhine.

Baca: Kejahatan terhadap Etnis Rohingya Mengarah ke Genosida

"Myanmar menghadapi krisis serius dengan dampak yang berpotensi parah terhadap keamanan kawasan ini," ucapnya.

Krisis kembali memuncak di Rakhine setelah terjadinya serangan oleh sekelompok militan terhadap sejumlah pos polisi pada Agustus 2017, 

Militer Myanmar membalas dengan operasi brutal di Rakhine. Para pengungsi Rohingya mengklaim prajurit Myanmar membakar rumah, memerkosa dan membunuh banyak orang dalam operasi di Rakhine.

Myanmar membantah melakukan kekejaman terhadap warga sipil di Rakhine, dan menegaskan hanya memburu militan Arakan Rohingya Salvation Army atau ARSA.

Meski saat ini sudah ada rencana repatriasi para pengungsi Rohingya dari Bangladesh, sejumlah pihak khawatir mereka akan mendapat kekerasan serupa, atau bahkan lebih parah dari sebelumnya.




(WIL)